Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Dua Lipa Resmikan Perpustakaan Manifesto, Hadirkan 100 Buku yang Pernah Dilarang

Penyanyi internasional Dua Lipa resmi membuka Manifesto Library atau Perpustakaan Manifesto di Kota Porto, Portugal.( Dok istimewa).
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Penyanyi internasional Dua Lipa resmi membuka Manifesto Library atau Perpustakaan Manifesto di Kota Porto, Portugal. Perpustakaan yang mulai dibuka untuk publik setelah diresmikan pada 30 Juni 2026 itu menghadirkan 100 buku pilihan yang pernah mengalami pelarangan atau pembatasan di berbagai negara.

Melalui proyek yang digarap bersama klub buku Service95, Dua Lipa ingin menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mengenal karya-karya yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap diskusi mengenai kebebasan berpikir, kekuasaan, hingga sejarah.

Dalam pernyataannya, Dua Lipa menyebut Manifesto Library sebagai ruang yang didedikasikan bagi buku-buku dan para penulis yang berani menyuarakan gagasan di tengah berbagai bentuk pembatasan.

“Bagi para pembaca yang menolak diberi tahu buku apa yang boleh mereka baca, kamu diundang untuk datang dan memutuskan sendiri apa yang pantas berada di rak-rak ini,” ujar Dua Lipa melalui laman Service95.

Ia menambahkan bahwa membaca dan mendiskusikan sebuah buku merupakan salah satu cara untuk menjaga ruang dialog tetap terbuka.

Sebanyak 100 buku di Manifesto Library diklasifikasikan ke dalam empat tema utama, yakni Power (Kekuasaan), Control (Kendali), Voice (Suara), dan Memory (Ingatan).

Pada tema Power, pengunjung dapat menemukan sejumlah karya yang membahas relasi kuasa dan narasi sejarah, seperti The Second Sex karya Simone de Beauvoir, Nineteen Eighty-Four karya George Orwell, hingga Free karya Lea Ypi.

Sementara itu, tema Control mengangkat buku-buku yang menyoroti propaganda, sensor, dan pembatasan kebebasan berpikir. Di antaranya The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood, The Trial karya Franz Kafka, The Memory Police karya Yoko Ogawa, serta buku tentang sensor karya seniman Ai Weiwei.

Tema Voice menghadirkan karya-karya yang memberikan ruang bagi suara kelompok yang selama ini kurang terwakili. Beberapa judul yang ditampilkan antara lain The Color Purple karya Alice Walker, The Satanic Verses karya Salman Rushdie, On Earth We’re Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong, hingga antologi My Pen Is the Wing of a Bird: New Fiction by Afghan Women.

Adapun tema Memory berfokus pada karya-karya yang mendokumentasikan sejarah dan pengalaman kolektif. Rak ini memuat novel Pachinko karya Min Jin Lee, Patriot karya Alexei Navalny, The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera, serta The Books of Jacob karya Olga Tokarczuk.

Perpustakaan Manifesto berdiri di sebuah bangunan bersejarah di Porto dan kini telah dibuka untuk umum. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya mendorong minat baca sekaligus membuka ruang diskusi mengenai karya sastra yang pernah menghadapi pelarangan di berbagai belahan dunia.

Meski demikian, status pelarangan terhadap buku-buku tersebut berbeda-beda di setiap negara. Sebagian pernah dilarang secara resmi, sebagian lainnya dibatasi peredarannya di wilayah tertentu atau menjadi objek sensor pada periode waktu tertentu. Manifesto Library menghadirkan koleksi tersebut sebagai bagian dari refleksi mengenai kebebasan berekspresi dan sejarah literasi.