Jakarta|| Radarpost.id
Festival musik tak lagi sekadar menjadi tempat musisi tampil dan penonton menikmati pertunjukan. Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong festival musik di Indonesia berkembang menjadi ruang bertemunya pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf/Wakabekraf) Irene Umar saat menerima audiensi penyelenggara LaLaLa Fest 2026 di Jakarta.
Menurut Irene, festival musik memiliki potensi besar untuk memperkenalkan ekosistem musik dan subsektor ekonomi kreatif Indonesia kepada pelaku industri internasional. Karena itu, pengalaman yang ditawarkan festival diharapkan tidak berhenti pada panggung musik.
“Kita ingin para delegasi yang datang tidak hanya menikmati festival, tetapi juga mengenal berbagai produk dan pengalaman kreatif Indonesia,” ujar Irene dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (13/8/2026).
LaLaLa Fest Buka Ruang Kolaborasi Musik
LaLaLa Fest 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22-23 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Dari perspektif industri musik, penyelenggaraan festival ini diarahkan untuk mempertemukan lebih banyak elemen dalam ekosistem musik, mulai dari musisi, promotor, publisher, label rekaman hingga pelaku industri dari berbagai negara.
Kementerian Ekraf pun mendorong adanya penguatan promosi, penyambutan delegasi internasional serta koordinasi lintas pemangku kepentingan. Subsektor lain seperti kuliner dan kriya juga diharapkan ikut terlibat sehingga festival memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Semakin banyak pengalaman yang mereka rasakan selama berada di sini, semakin besar peluang Indonesia untuk dikenal dan membuka kolaborasi lanjutan,” kata Irene.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri musik kawasan Asia Pasifik.
Libatkan Puluhan Delegasi Industri Musik Taiwan
Salah satu agenda yang dibahas dalam audiensi tersebut adalah kolaborasi Taiwan Beats in Jakarta. Program ini menjadi bagian dari penguatan jejaring internasional LaLaLa Fest.
Sekitar 50 delegasi industri musik Taiwan dijadwalkan terlibat dalam rangkaian kegiatan melalui sesi jejaring dan business matching. Pertemuan tersebut membuka peluang pertukaran talenta, promosi karya serta perluasan akses pasar musik Indonesia ke tingkat global.
Selain itu, muncul pula pembahasan mengenai pembentukan Asia Pacific International Music Festival Association (APIMFA). Wadah tersebut diarahkan menjadi ruang kolaborasi bagi penyelenggara festival musik di kawasan Asia Pasifik.
Bagi industri musik Indonesia, jaringan semacam ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas koneksi bisnis dan membuka peluang pertunjukan maupun kerja sama lintas negara.
Festival Musik Tak Hanya Soal Panggung
LaLaLa Fest sendiri telah digelar sejak 2016 oleh PT Indo The Nusantara. Memasuki satu dekade penyelenggaraan, festival tersebut diarahkan menjadi platform yang mempertemukan berbagai bagian dari industri musik.
Direktur Utama PT Indo The Nusantara, Donny Heru, mengatakan dukungan dan masukan dari Kementerian Ekraf diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah festival musik internasional.
“Kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah festival musik internasional sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas bagi pelaku industri musik nasional dengan mitra dari berbagai negara,” ujar Donny.
Dengan konsep tersebut, festival musik tidak hanya dilihat dari jumlah penonton atau deretan musisi yang tampil. Lebih jauh, festival dapat menjadi titik temu antara kreativitas, bisnis, jaringan internasional dan peluang pasar baru bagi musisi serta pelaku industri musik Indonesia.













