Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

GEF 2026 di Bali Soroti Kesenjangan Etika dan Tata Kelola Organisasi

GEF 2026 diselenggarakan pada tanggal 20–22 Oktober 2026 di Pantai Prama Sanur, Bali, dengan mengangkat tema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy”.(Istimewa).

Jakarta || Radarpost.id

Etika pribadi dalam dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai yang diyakini individu, tetapi juga mempengaruhi sistem yang dibangun organisasi. Hal itu menjadi salah satu isu yang akan dibahas dalam Global Ethics Forum (GEF) 2026 yang untuk pertama kalinya diadakan di kawasan Asia Timur dan Pasifik dengan Indonesia sebagai tuan rumah.

GEF 2026 diselenggarakan pada tanggal 20–22 Oktober 2026 di Pantai Prama Sanur, Bali, dengan mengangkat tema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy”.

Forum tersebut dihadiri Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama Globethics dan melibatkan 10 organisasi Indonesia dari berbagai sektor. Mereka terdiri atas PPM Manajemen, CNN Indonesia, National Geographic Indonesia, TribunNetwork, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, UNESCO Office Jakarta, Rotary Sentul Peace Club Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Hindu Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada.

Peluncuran kemitraan GEF 2026 menjadi momentum untuk melihat lebih jauh tantangan penerapan etika di lingkungan organisasi, terutama ketika dunia bisnis, teknologi, dan kebijakan menghadapi perubahan yang semakin cepat.

Ada Jarak antara Nilai dan Sistem

Salah satu data yang menjadi perhatian dalam peluncuran GEF 2026 berasal dari riset PPM Manajemen. Penelitian tersebut melibatkan 282 responden dari 173 organisasi yang beroperasi di lebih dari 20 sektor.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai yang dianggap penting oleh karyawan dengan sistem yang tersedia dalam organisasi.

(istimewa).

Sebanyak 98,6 persen karyawan menyatakan kejujuran sebagai salah satu nilai inti. Namun di sisi lain, hanya 15,8 persen organisasi yang memiliki sistem antikorupsi yang terstandar.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa komitmen terhadap nilai etika belum selalu berjalan beriringan dengan perangkat organisasi yang mendukung penerapannya.

Persoalan serupa terlihat pada mekanisme pelaporan. Sebanyak 56,3 persen karyawan menyatakan mekanisme pelaporan telah tersedia di organisasi mereka. Namun, hanya sekitar 55–60 persen yang merasa aman menggunakan mekanisme tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberadaan sistem belum otomatis membuat pekerja merasa terlindungi ketika hendak menyampaikan dugaan pelanggaran atau persoalan etika di tempat kerja.

Head of Corporate Strategy and Value Creation PPM Manajemen, Aries Heru Prasetyo, PhD, mengatakan perilaku etis perlu dilihat dalam konteks lingkungan tempat seseorang bekerja.

“Sebuah organisasi tidak bisa meminta orang berperilaku etis tanpa melihat kondisi tempat mereka diminta bekerja. Nilai-nilai kemanusiaan sangat berpengaruh pada bagaimana pekerjaan dirancang,” ujar Aries.

Menurut Aries, persoalan etika tidak semata-mata dapat dibebankan kepada individu. Desain pekerjaan, budaya organisasi, serta sistem yang tersedia turut menentukan ruang bagi seseorang untuk mengambil keputusan secara etis.

GEF 2026 dan Gagasan Human Flourishing

Di tengah perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, serta dinamika kebijakan global, GEF 2026 juga membawa gagasan mengenai human flourishing atau kondisi ketika manusia dapat berkembang secara utuh bersama komunitas dan lingkungan.

Wakil Presiden Globethics sekaligus Pendiri YADEMA, Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, menilai ukuran keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada pencapaian pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pembangunan perlu melihat hubungan antara kesejahteraan manusia, kehidupan komunitas, dan keberlanjutan alam.

“Human flourishing adalah soal menciptakan kondisi ketika manusia, komunitas, dan alam dapat berkembang bersama,” kata Dicky.

Perspektif tersebut menjadi salah satu landasan pembahasan dalam GEF 2026. Forum tidak hanya diarahkan untuk membicarakan persoalan etika secara normatif, tetapi juga bagaimana prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam praktik tata kelola organisasi, bisnis, teknologi, dan kebijakan publik.

Indonesia Jadi Titik Temu Dialog Lintas Sektor

Kehadiran 10 organisasi dari sektor yang berbeda menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan GEF 2026. Keterlibatan lembaga pendidikan, media, perusahaan, organisasi internasional, serta kelompok masyarakat membuka ruang pertukaran perspektif yang lebih luas mengenai tantangan etika.

Pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah juga menempatkan Bali sebagai titik temu bagi pembahasan isu responsible governance di tengah situasi dunia yang semakin terfragmentasi.

Melalui forum yang berlangsung selama tiga hari tersebut, GEF 2026 diharapkan dapat mempertemukan berbagai pemikiran dan pengalaman mengenai bagaimana organisasi serta pemangku kepentingan dapat membangun tata kelola yang lebih bertanggung jawab.

Pembahasan akan diarahkan pada pencarian jalan etis dalam menghadapi tantangan di sektor bisnis, teknologi, dan kebijakan, dengan tetap menempatkan manusia, komunitas, dan lingkungan sebagai bagian dari tujuan pembangunan.

Dengan demikian, GEF 2026 tidak hanya menjadi forum internasional yang membahas etika, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertimbangkan kembali bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dapat diterjemahkan menjadi sistem dan kebijakan yang nyata.

Bagi Indonesia, penyelenggaraan Global Ethics Forum 2026 di Bali menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan percakapan global mengenai tata kelola yang bertanggung jawab dan masa depan pembangunan yang lebih inklusif, damai, serta berkelanjutan.