Depok || Radarpost.id
Peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali peran santri dalam perjalanan bangsa dan para Wali. Dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga menghadapi tantangan era digital.
Santri dituntut untuk terus menjaga tradisi, menguasai ilmu pengetahuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Melalui artikel “Refleksi Perjuangan Santri Sejarah yang Terlupakan” untuk menjaga Tradisi, menjawab Tantangan Zaman”, Pengasuh Pondok Pesantren Dar eL Fikr KH. Hadi Hadiatullah, dalam sambutanya mengajak pembaca memahami pentingnya peran santri dalam menjawab perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
KH. Hadi Hadiatullah, menyampaikan betapa pentingnya kita memahami sejarah perjuangan orang tua kita, guru guru kita dalam upaya ikut merebut kemerdekaan.
Sejarah membuktikan bahwa pesantren merupakan basis komunitas anti penjajah dan penjajahan. Hal ini sejalan dengan misi Islam sebagai agama kedamaian, yang menolak segala macam penindasan kemanusiaan, baik dari segi materi, pemikiran, dan kebebasan dalam menentukan kehidupan sesuai dengan keyakinannya.

“Kedepan kita mesti menjaga Negara ini dengan meningkatkan kapasitas pengetahuan untuk menjadikan santeri sebagai agen perubahan,” ucap KH. Hadi, KH. pada acara puncak hari santeri di pondok pesantren Dar el Fikr Kota Depok, Jum’at,(29/10/2026)
Para kiai dan santri rela membayar mahal dengan mempertaruhkan nyawa, demi mewujudkan cita-cita bangsa untuk bebas dari kungkungan kolonial dan para anteknya.
Dalam perkembangannya, para santri terus belajar untuk mengikuti kemajuan zaman dengan tetap mempertahankan identitasnya sebagai penjaga pilar-pilar keagamaan dan kebangsaan.
Mereka tidak canggung untuk ikut serta dalam mengisi kemerdekaan melalui berbagai cara. Banyak pesantren yang telah mencetak para pemimpin dan kader yang siap mengisi segala lini untuk kemajuan bangsa.

Maka, jika masih ada yang meragukan peran santri dalam mewujudkan dan menjaga perdamaian, perlu membaca sejarah dan berkunjung ke pesantren.
Di sana akan ditemukan kehidupan yang tenang dan damai karena semuanya dilandasi dengan kejujuran, toleransi, dan saling menghormati. Tentang loyalitas, jangan ditanya. Mereka siap mewakafkan jiwa dan raganya untuk kemuliaan agama dan bangsa.
Sementara Kyai Mun’im DZ menuturkan, secara terang benderang bagaimana ulama kita dimulai sejak Wali Songo kemudian dilanjut generasi ulama Nahdlatul ulama hingga pertempuran surabaya.
Surabaya menjadi salah satu lokus perjuangan para santri mempertahankan kemerdekaan Indonesia di bawah komando Bung Tomo dan KH. Abdul Wahab Hasbullah pada 10 November 1945, termasuk bagaimana solidnya santeri bersama TNI membubarkan PKI.
“Tentu hal ini menggelora tak lepas dari adanya “Resolusi Jihad” yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari 20 hari sebelumnya,” paparnya.

Menurut Kyai Mun’im, Hari Santri bukan sekadar seremoni dengan sarung dan peci, melainkan cermin dari keutuhan spiritualitas, intelektualitas, dan nasionalisme yang telah mengakar dalam perjalanan bangsa.
Namun, refleksi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana nilai-nilai santri mampu tetap hidup dan relevan di tengah zaman modern yang serba cepat, digital, dan penuh distraksi.
Puncak Hari Santeri Nasional tahun 2026 yang berlangsung di Pesantre Dari el Fikr Depok, dihadiri oleh kepala KEMENAG RI Depok, Kabag Kesra Kota Depok dan Pejabat, para Pengasuh Pesanten, serta Wali santeri, Tokoh Masyarakat. (**).












