Jakarta|| Radarpost.id
Ancaman ikan sapu-sapu di perairan Jakarta tak hanya merusak lingkungan, tapi juga berpotensi membahayakan kesehatan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkap temuan kandungan bakteri hingga logam berat pada ikan tersebut.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan perlunya pengendalian populasi ikan sapu-sapu secara masif di seluruh wilayah Jakarta. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan kesehatan dari ikan invasif tersebut.
Menurut Pramono, ikan sapu-sapu tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga merusak ekosistem perairan. Selain itu, ikan ini kerap menggerus struktur turap dan mengganggu keseimbangan rantai makanan di sungai.
“Kalau tidak segera dikendalikan, ini bisa memperparah kondisi ekosistem kita,” ujarnya.
Namun, persoalan tak berhenti pada aspek lingkungan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengungkap hasil penelitian yang mengkhawatirkan.
Dari pengujian sampel di Kali Ciliwung, ditemukan bahwa ikan sapu-sapu mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella dan E. coli, serta residu logam berat akibat tingginya tingkat pencemaran air.
Temuan tersebut membuat pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu, meskipun selama ini dikenal sebagai ikan pembersih.
“Ambang batas pencemarannya sudah tinggi. Ini berisiko bagi kesehatan,” kata Hasudungan.
Sementara itu, operasi penangkapan ikan sapu-sapu yang dilakukan di Kali Cideng, tepatnya di kawasan Plaza Indonesia, menjadi langkah awal pengendalian populasi.
Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, menyebut ikan-ikan tersebut banyak bersembunyi di dalam turap dan bahkan merusak struktur beton untuk berkembang biak.
Dalam operasi tersebut, puluhan ikan sapu-sapu berhasil ditangkap dan langsung dimusnahkan guna mencegah dampak lanjutan.
Ke depan, Pemprov DKI akan memperluas operasi serupa ke wilayah lain yang memiliki populasi ikan sapu-sapu tinggi. Langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga kualitas lingkungan perairan, tetapi juga melindungi masyarakat dari potensi risiko kesehatan.
Fenomena ikan sapu-sapu di Jakarta menjadi pengingat bahwa pencemaran sungai berdampak luas, tidak hanya pada ekosistem, tetapi juga pada keamanan pangan masyarakat.













