BEKASI|| Radarpost.id
Proses evakuasi korban tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur masih berlangsung. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengungkap sejumlah korban yang terjepit di dalam gerbong masih dalam kondisi hidup dan dapat diajak berkomunikasi.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, M Syafii, menyampaikan bahwa korban yang terjepit mayoritas mengalami luka pada bagian kaki akibat himpitan material kereta.
“Masih bisa (diajak bicara),” ujar Syafii di lokasi kejadian, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, tim gabungan terus memberikan penanganan medis langsung di lokasi selama proses evakuasi berlangsung. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa sakit yang dialami korban sekaligus menjaga kondisi mereka tetap stabil.
Syafii menjelaskan, proses evakuasi menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama karena kuatnya struktur logam yang saling menghimpit antara KRL dan KA jarak jauh.
“Dengan peralatan normal tidak memungkinkan, sehingga kami membutuhkan alat khusus untuk memotong material logam gerbong,” jelasnya.
Hingga saat ini, proses evakuasi telah berjalan sekitar enam jam dengan progres mencapai 60 persen. Selain itu, keterbatasan ruang di dalam gerbong juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
“Di dalam gerbong sangat terbatas, maksimal hanya sekitar 25 orang yang bisa melakukan penanganan, dan itu bercampur dengan material kereta yang rusak,” tambahnya.
Basarnas menegaskan tidak akan melakukan pergeseran gerbong selama masih terdapat korban yang hidup di dalamnya. Keputusan ini diambil untuk menghindari risiko yang dapat memperburuk kondisi korban.
“Kami tidak ingin ada pergerakan yang bisa membahayakan korban. Fokus kami memisahkan tubuh korban dari material yang menghimpit dengan aman,” tegas Syafii.
Insiden tabrakan kereta di Bekasi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Tim penyelamat masih terus berupaya mengevakuasi seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan dan penanganan medis maksimal di lokasi kejadian.













