Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Erupsi Anak Krakatau Tak Hanya Menghancurkan, Pakar: Bisa Jadi Awal Terbentuknya Ekosistem Baru

Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak selalu menjadi akhir bagi kehidupan di kawasan terdampak.(Istimewa).

Jakarta|| Radarpost.id

Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak selalu menjadi akhir bagi kehidupan di kawasan terdampak. Dari perspektif ekologi, letusan justru dapat menjadi titik awal terbentuknya ekosistem baru melalui proses yang dikenal sebagai suksesi primer.

Proses tersebut terjadi ketika suatu wilayah mengalami gangguan besar hingga komunitas kehidupan sebelumnya hilang atau rusak, kemudian secara bertahap kembali dihuni organisme. Dalam kasus Krakatau, proses ini telah menjadi salah satu contoh penting bagi ilmuwan untuk mempelajari bagaimana alam membangun kembali kehidupan setelah letusan vulkanik.

Ahli konservasi tumbuhan sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Agus Hikmat, mengatakan erupsi dapat mengubah suatu kawasan menjadi kondisi yang sangat berbeda dari sebelumnya.

“Erupsi gunung berapi akan mereset ekosistem yang ada menjadi ekosistem yang baru,” kata Agus, dikutip dari laman IPB University, Jumat (11/9/2026).

Menurut dia, perkembangan ekosistem di kawasan Krakatau dapat dilihat melalui tiga tahapan utama, yakni penghancuran, kolonisasi, dan stabilisasi ekosistem.

Fase pertama: ekosistem mengalami kehancuran

Pada tahap awal, material dan energi yang dilepaskan gunung api dapat menyebabkan perubahan ekstrem terhadap lingkungan.

Panas, abu vulkanik, gas seperti sulfur dioksida (SO2), hingga gelombang tsunami berpotensi merusak vegetasi dan habitat. Sebagian tumbuhan dapat mati, sementara satwa liar dapat terdampak karena kehilangan habitat, mati, berpindah, atau terbawa gelombang.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu membuat kawasan sepenuhnya tanpa kehidupan.

Sejumlah organisme seperti burung laut, kelelawar, dan serangga terbang dapat bertahan. Keberadaan hewan-hewan tersebut juga memiliki fungsi ekologis karena dapat membantu membawa dan menyebarkan biji tumbuhan ke kawasan yang mulai pulih.

Organisme pionir membuka jalan

Setelah permukaan tanah tertutup material vulkanik seperti pasir dan batuan, kehidupan secara perlahan mulai kembali.

Organisme yang memiliki kemampuan bertahan pada kondisi ekstrem menjadi kelompok awal yang menempati wilayah tersebut. Mikroba, lumut, dan jamur dapat menjadi bagian dari organisme pionir yang membantu memulai perubahan lingkungan.

Seiring waktu, kondisi substrat berubah. Material vulkanik mengalami pelapukan dan mulai membentuk media yang memungkinkan tumbuhan lain tumbuh.

Rerumputan kemudian dapat berkembang, disusul semak, perdu, hingga pohon-pohon berukuran lebih kecil. Dalam waktu yang lebih panjang, proses tersebut dapat mengarah pada terbentuknya hutan muda.

Agus menjelaskan proses suksesi primer tidak berlangsung cepat. Lamanya pemulihan dapat mencapai puluhan hingga ratusan tahun, tergantung kondisi lingkungan serta keberadaan organisme yang membantu penyebaran kehidupan.

“Proses suksesi primer dapat berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun, bergantung pada kondisi lingkungan dan keberadaan agen penyebar biji,” ujarnya.

Letusan juga menciptakan habitat baru

Dari sudut pandang ekologi, erupsi juga memiliki sisi lain. Selain menghilangkan habitat yang telah ada, aktivitas vulkanik dapat menghasilkan bentang alam baru yang kemudian ditempati organisme.

Lava yang mendingin menjadi batuan vulkanik. Seiring mengalami pelapukan, material tersebut dapat berkontribusi terhadap pembentukan tanah dan menyediakan mineral bagi perkembangan vegetasi.

Di wilayah laut, material vulkanik juga dapat menjadi substrat baru yang berpotensi mendukung perkembangan organisme laut, termasuk karang.

Sementara itu, terbentuknya gua lava, kawah, dan tebing baru dapat menciptakan ruang hidup bagi berbagai satwa seperti kelelawar, burung, kadal, serta organisme lainnya.

Dengan demikian, perubahan akibat erupsi tidak hanya berarti hilangnya kehidupan, tetapi juga menciptakan kondisi baru yang kemudian dapat diisi oleh komunitas organisme berbeda.

Abu vulkanik tetap membawa risiko bagi tanaman

Meski proses alam dapat memulai regenerasi ekosistem, abu vulkanik tetap memiliki dampak terhadap vegetasi yang berada di kawasan terdampak.

Pakar ilmu tanah IPB University, Iskandar, menjelaskan abu vulkanik yang menempel pada permukaan daun dapat mengganggu proses fotosintesis karena menutupi stomata.

Gangguan tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jika paparan berlangsung lama, tanaman berpotensi mengalami gangguan pembungaan hingga gagal panen.

“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” kata Iskandar.

Risiko juga dipengaruhi jarak dari pusat erupsi. Semakin dekat dengan sumber letusan, material abu yang jatuh dapat memiliki suhu lebih tinggi dan berpotensi menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.

Konservasi bukan berarti mengembalikan alam seperti semula

Bagi kawasan seperti Krakatau yang merupakan cagar alam dan masih aktif secara vulkanik, pemulihan ekosistem tidak selalu berarti manusia harus mengembalikan kondisi alam seperti sebelum erupsi.

Agus menilai proses alami justru perlu diberi ruang untuk berlangsung. Upaya konservasi dapat diarahkan pada pencegahan masuknya spesies asing invasif, tidak sembarangan memasukkan tanaman dari luar, serta melakukan pemantauan jangka panjang terhadap aktivitas vulkanik, tsunami, vegetasi, dan satwa liar.

“Krakatau adalah laboratorium alam proses suksesi primer. Tugas konservasi bukan mengembalikan alam seperti semula, tetapi melindungi proses suksesi alami agar berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dari perspektif sains, erupsi Anak Krakatau dengan demikian tidak dapat hanya dilihat sebagai peristiwa kehancuran. Letusan merupakan gangguan besar yang dapat mengubah struktur ekosistem, sekaligus membuka tahapan baru bagi kehidupan untuk kembali berkembang.

Krakatau menjadi contoh bahwa pemulihan alam bukan proses instan. Kehidupan kembali melalui tahapan panjang, dimulai dari organisme paling sederhana hingga terbentuk komunitas tumbuhan dan satwa yang semakin kompleks.