Bogor|| Radarpost.id
Sulit menebak langkah berikutnya dari The Jansen. Setelah bertahun-tahun dikenal lewat energi punk yang liar, sindiran sosial, hingga keresahan eksistensial, band asal Bogor ini justru membuka babak baru lewat sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya: lagu cinta.
Single terbaru mereka, bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni), resmi dirilis pada 29 April 2026 dan menjadi pintu masuk menuju album keempat bertajuk Romantisasi Impulsif. Bukan sekadar rilisan biasa, lagu ini menandai pertama kalinya The Jansen secara eksplisit mengangkat tema romansa dalam diskografinya.
Dari Bogor ke Eksplorasi Tanpa Batas
Perjalanan The Jansen bukan cerita baru. Sejak EP From Bogor to Japan (2016), lalu album Present Continuous (2017), Say Say Say (2019), hingga gebrakan besar lewat Banal Semakin Binal, mereka konsisten berevolusi.
Eksperimen itu semakin terasa saat merilis Durja Bersahaja, yang membawa nuansa lo-fi dengan vokal tenggelam dan reverb basah—sesuatu yang sempat mengejutkan fans lama mereka.
Kini, formasi yang tersisa—Cinta Rama Bani Satria (Bani) dan Adji Pamungkas—justru melangkah lebih jauh. Mereka menutup trilogi musikal yang dimulai sejak Banal Semakin Binal lewat Romantisasi Impulsif, album berisi 12 lagu yang dijadwalkan rilis digital pada 22 Juli 2026.
Lagu Cinta, Tapi Tetap Gelap
“Ini pertama kali The Jansen dengan sengaja bikin lagu cinta,” ujar Adji.
Namun, tentu saja ini bukan lagu cinta biasa. Alih-alih manis dan ringan, The Jansen tetap setia pada identitas mereka: lirik yang ironis, nuansa gelap, dan kejujuran yang mentah.
Frasa “wo ai ni” (aku cinta padamu) diulang seperti mantra—bukan hanya untuk pasangan, tapi juga sebagai bentuk meyakinkan diri sendiri di tengah ketidakpastian.
Adji menjelaskan, lagu ini terinspirasi dari realitas sederhana: bagaimana cinta tetap hidup di tengah keterbatasan. Dari kisah orang yang rela meminjam motor demi berkencan, hingga keputusan-keputusan impulsif yang terasa “tidak masuk akal”, tapi nyata.
Visual Retro & Tiga Bahasa
Menariknya, video lirik lagu ini dirilis sehari setelah single, dengan konsep visual ala film Hong Kong era 90-an. Tidak hanya itu, lirik ditampilkan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin—memberi sentuhan global sekaligus unik.
Pendekatan ini mempertegas bahwa The Jansen tidak hanya bereksperimen di musik, tapi juga dalam cara mereka menyampaikan cerita.
Menuju Album Penutup Trilogi
Album Romantisasi Impulsif akan menjadi penutup dari trilogi yang sudah mereka bangun selama beberapa tahun terakhir. Untuk rilisan fisik, mereka menggandeng dua label lintas negara:
P-Vine Records (Jepang) untuk CD dan vinyl
Miles Records (Malaysia) untuk kaset
Langkah ini menunjukkan ambisi The Jansen untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus menjaga akar independen mereka.
Fase Baru atau Awal Baru?
Dengan single yang berani dan arah musikal yang tak terduga, The Jansen sekali lagi membuktikan bahwa mereka bukan band yang nyaman berada di zona aman.
Pertanyaannya sekarang: apakah Romantisasi Impulsif akan jadi penutup manis dari sebuah fase, atau justru pembuka jalan menuju eksperimen yang lebih liar lagi?
Satu hal yang pasti—The Jansen belum selesai mengejutkan.













