Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Hardiknas Jadi Cermin: Pakar Unair Ingatkan Kampus Jangan Jadi ‘Pabrik’ Tenaga Kerja

Pakar sosiologi pendidikan dari Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu
banner 120x600

Surabaya || Radarpost.id

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Di tengah tuntutan agar lulusan cepat terserap Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), perguruan tinggi dinilai mulai menghadapi ancaman pergeseran nilai.

Sorotan tersebut disampaikan oleh pakar sosiologi pendidikan dari Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi memiliki peran besar dalam membangun peradaban bangsa.

Menurutnya, kampus seharusnya melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan moral. Ia mengingatkan pentingnya kembali pada filosofi pendidikan yang memerdekakan, sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.

“Perguruan tinggi harus membebaskan mahasiswa, membentuk jiwa merdeka lahir dan batin. Pendidikan harus holistik, tidak hanya mengejar kecerdasan, tetapi juga karakter dan budi pekerti,” ujarnya, di Surabaya, Selasa(5/5/2026).

Ancaman Kampus Jadi Mesin Industri

Prof Tuti menilai, orientasi pendidikan tinggi yang terlalu fokus pada kebutuhan industri berpotensi menggeser marwah kampus. Jika tidak diimbangi, perguruan tinggi bisa berubah menjadi sekadar “pabrik” tenaga kerja.

Ia mengibaratkan lulusan yang hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri sebagai “sekrup-sekrup” dalam mesin kapitalisme. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat mengikis kepekaan generasi muda terhadap ketimpangan sosial dan ketidakadilan.

Lebih jauh, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian kampus yang mengarah pada komersialisasi. Dengan dalih otonomi, tidak sedikit perguruan tinggi berlomba membuka program studi yang “laku di pasar” dan menerima mahasiswa sebanyak mungkin, tanpa mempertimbangkan keseimbangan keilmuan.

Ilmu Humaniora Terancam Tersisih

Dampak paling nyata dari tren tersebut adalah terpinggirkannya ilmu dasar, sosial, dan humaniora. Prof Tuti mengingatkan bahwa jika logika pasar terus mendominasi, disiplin ilmu yang mengasah pemikiran kritis justru akan tersingkir.

Ia menggambarkan kekuatan pasar seperti “juggernaut”—kekuatan besar yang melaju tanpa kendali dan berpotensi menghancurkan apa saja di depannya. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa menggerus fondasi moral dan peradaban bangsa.

Padahal, menurutnya, ilmu humaniora memiliki peran krusial untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berjalan selaras dengan nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.

Perlu Keseimbangan dan Sinergi

Sebagai solusi, Prof Tuti mendorong adanya keseimbangan dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Ia menekankan pentingnya sinergi antara program studi berbasis teknologi dengan ilmu dasar, sosial, dan humaniora.

“Program studi harus saling melengkapi. Kurikulum perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman, tetapi tetap menanamkan nilai moral dan kemanusiaan,” tegasnya.

Momentum Hardiknas, lanjutnya, seharusnya menjadi pengingat bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya mencetak lulusan siap kerja, melainkan membentuk manusia utuh yang mampu berpikir kritis, beretika, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.