Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

“Kami Kehilangan Pejuang Kemanusiaan dan Seni”: Keluarga Besar Mengenang Titiek Puspa

banner 120x600

||JAKARTA || RADARPOST.ID ||  Kepergian Titiek Puspa meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia seni Indonesia, tetapi juga bagi keluarga besar yang selama ini menjadi saksi perjuangan hidupnya. Petty Tanjung, mewakili keluarga, mengungkapkan rasa terima kasih atas segala bentuk penghormatan yang diberikan kepada almarhumah.

Jenazah Eyang Titi Puspa – Tanah Kusir Jkt Selatan

“Kami ini, keluarga besar khususnya, sebagai bagian dari ‘bohong’—istilah orang Jawa untuk kerabat dekat—merasa punya tanggung jawab menjaga harkat Titiek Puspa, yang beliau raih dengan keringat dan air mata. Dia adalah pejuang keluarga, pejuang kemanusiaan,” ujar Petty dengan haru.

Ia juga menekankan bahwa tempat peristirahatan terakhir Titiek Puspa dipilih berdasarkan keinginan pribadi almarhumah, setelah berdiskusi secara khusus dengan adik Petty. “Mama ingin dimakamkan di sana. Saya sangat terharu melihat begitu banyak orang mengantar beliau. Saya bukan orang yang bisa mengerahkan massa, jadi saya tahu itu semua datang dari hati,” lanjutnya.

Jenazah Di Makan Kan Di Tanah Kusir Jkt Selatan

Titiek Puspa dikenal bukan hanya sebagai seniman legendaris, tetapi juga sebagai sosok yang sangat peduli pada generasi muda. Bahkan, Rian D’Masiv, yang hadir saat pelepasan jenazah, menyebut bagaimana almarhumah pernah memberi semangat kepada para musisi muda, termasuk dirinya.

“Beliau selalu bilang, generasi muda Indonesia sekarang seratus kali lebih pintar dari dirinya dulu. Makanya beliau selalu mendorong: jangan takut keluar dari zona nyaman,” cerita Petty.

Kenangan masa lalu pun tak luput diceritakan: dari naik becak ke RRI dengan pakaian seadanya, sampai merintis karier di panggung tanpa fasilitas seperti zaman sekarang. “Waktu itu rumah kami bekas garasi 110 meter persegi. Tapi ibu selalu buka pintu untuk bakat muda seperti Ida Royani, Ernie Djohan, dan lain-lain. Mereka tidur di tempat tidur, sementara saya dan adik di sofa,” kenang Petty.

Salah satu warisan terakhir Titiek Puspa adalah proyek “Kita Cinta”, yang diluncurkan tahun 2012—kelompok penyanyi anak-anak yang menyuarakan nilai-nilai moral dan nasionalisme, didanai dari kantong pribadi. “Itu bentuk utang budinya kepada negara ini. Karena 72 tahun beliau profesional di panggung, itu semua berkat kemerdekaan,” ujar Petty, sambil menekankan betapa besar penghargaan ibunya terhadap para pahlawan.

Kini, Titiek Puspa dimakamkan di antara para pahlawan yang selama ini ia kagumi dan hormati. “Beliau selalu bilang: kalau tidak ada pahlawan, Indonesia tidak merdeka, dan kalau tidak merdeka, tidak ada panggung untuk seni. Itulah logika kemanusiaan beliau.”

Di akhir, Petty menyampaikan satu cita-cita almarhumah yang belum terwujud sepenuhnya: membangun sekolah seni bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. “Beliau nggak mau mereka bayar, katanya biar biaya ditanggung sendiri. Itu sedang dalam proses, doakan saja.”