Jakarta || Radarpost.id
Di tengah kerasnya panggung politik nasional, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan wajah lain dari kekuasaan—bukan yang menakutkan atau mendominasi, melainkan yang penuh ampunan.
Langkah mengejutkan Prabowo yang memberikan amnesti kepada Hasto Kristiyanto dan mengabulkan abolisi untuk Thomas Lembong, bukan hanya menggetarkan ruang hukum dan politik, tapi juga menggugah hati banyak orang—termasuk mantan lawan politiknya sendiri, Immanuel Ebenezer.
Dikenal vokal menentang Prabowo di Pilpres 2014 dan 2019, pria yang akrab disapa Noel itu kini berada di barisan pendukung melalui Prabowo Mania 08. Namun keterpukauannya kali ini bukan karena jabatan atau kekuasaan, melainkan karena satu hal yang menurutnya langka: kebesaran hati.
“Presiden Prabowo memilih jalan yang tidak biasa. Ia memaafkan, padahal dia bisa membalas. Itu bukan kelemahan, itu kekuatan sejati,” ujar Noel dalam keterangannya, Jumat(1/8/2025).
Noel menyoroti bagaimana isu lama soal dugaan tamparan yang sempat diangkat Hasto dalam narasi “kalau tidak ada asap, tak mungkin ada api”, bisa saja dibalas keras oleh Prabowo. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: pintu maaf dibuka, luka lama disapu bersih, dan narasi dendam tak diberi ruang tumbuh.
Hal serupa terjadi pada Thomas Lembong. Tuduhan korupsi impor gula yang dilabeli sebagai “pesanan istana” oleh sebagian kalangan, sempat menyudutkan Prabowo di ruang publik. Namun alih-alih melanjutkan proses hukum yang bisa memperpanjang konflik, Prabowo memilih menghentikannya—dengan abolisi.
“Langkah ini mungkin kontroversial, tapi menunjukkan satu hal: presiden kita tidak memimpin dengan dendam. Ia memilih persatuan,” kata Noel.
Dalam esainya yang viral berjudul “Salju di Hati Presiden”, Noel menggambarkan Prabowo sebagai pemimpin berhati putih seperti salju—dingin namun menenangkan, menyelimuti luka lama, dan menandai awal baru.
Namun ia juga memberi peringatan. Dalam putihnya salju, masih bisa bersembunyi serigala berbulu domba. Artinya, ketulusan bisa saja dikhianati.
“Memaafkan tidak berarti semua akan berubah. Ada yang tetap rakus. Tapi Prabowo sadar, membalas bukan jalan membangun bangsa,” ucapnya.
Bagi Noel, keputusan amnesti dan abolisi bukan sekadar kebijakan hukum, tapi statemen moral tentang siapa Prabowo sebenarnya: pemimpin yang tahu kapan harus keras, dan tahu kapan harus melembutkan hati.
Di tengah iklim politik yang sering transaksional, langkah ini memberi pelajaran bahwa kekuasaan tidak selalu harus digunakan untuk menghabisi lawan. Kadang, justru dengan mengampuni, seorang pemimpin menunjukkan kematangan dan arah visi yang jauh ke depan.
“Sejarah akan menilai. Bukan dari seberapa banyak lawan yang ia kalahkan, tapi dari seberapa banyak yang ia ampuni,” tutup Noel.
Dengan hati yang dingin namun jernih seperti salju, Prabowo tampaknya mengajak bangsa ini untuk bergerak ke depan—tanpa beban dendam di pundak.













