Jakarta || Radarpost.id
Kemacetan parah yang melanda kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, khususnya di Regional 2 Cabang NPCT1 pada pertengahan April lalu, kembali membuka mata publik terhadap rapuhnya sistem logistik nasional. Insiden ini tak hanya memperlambat arus barang, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan ketahanan rantai pasok Indonesia di masa depan.
Dr. Oki Setyandito, pakar dari Faculty of Engineering BINUS University, menegaskan bahwa akar persoalan bukan semata pada infrastruktur pelabuhan, melainkan pada lemahnya tata kelola dan koordinasi operasional antarterminal.
“Tata kelola pelabuhan yang efektif tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga sangat ditentukan oleh efisiensi manajemen operasional, integrasi sistem informasi, dan kemampuan koordinasi antar pemangku kepentingan,” ujar Dr. Oki dalam keterangannya, Kamis (24/4).
Menurutnya, kejadian kemacetan yang dipicu oleh bersandarnya tiga kapal besar secara bersamaan akibat gangguan cuaca menjadi contoh nyata buruknya sistem distribusi kerja. Meski Tanjung Priok memiliki tujuh terminal utama dengan kapasitas hingga 7,6 juta TEUs per tahun, beban yang tidak terdistribusi merata menyebabkan antrian panjang dan penurunan performa logistik nasional.
Lebih lanjut, Dr. Oki menawarkan lima strategi kunci guna memperkuat ketangguhan pelabuhan : Distribusi beban kerja merata ke seluruh terminal untuk menghindari penumpukan, optimalisasi penjadwalan digital berbasis data historis untuk kapal dan truk, penguatan moda transportasi alternatif, khususnya kereta logistik, pengembangan buffer zone dan dry port di luar pelabuhan untuk desentralisasi aktivitas logistik, kolaborasi lintas institusi, melibatkan Pelindo, operator terminal, pemerintah daerah, dan asosiasi logistik.
“Penguatan pelabuhan tidak cukup hanya dengan betonisasi atau penambahan alat berat. Reformasi manajemen dan integrasi teknologi adalah kunci menuju sistem logistik yang tangguh dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia pun menutup pernyataannya dengan peringatan keras: jika tidak ada pembenahan signifikan, kejadian serupa akan terus terulang, membawa dampak ekonomi yang tak kecil.
“Ketahanan supply chain dimulai dari pelabuhan. Ini bukan hanya soal efisiensi logistik, tapi juga soal daya saing bangsa,” pungkas Dr. Oki.













