Jakarta|| Radarpost.id
Aktris Marissa Anita angkat bicara terkait anggapan dirinya kerap memerankan karakter “emak-emak red flag” di sejumlah film. Lewat film terbarunya, Crocodile Tears, ia justru menegaskan bahwa karakter yang dibawakannya merepresentasikan kompleksitas seorang ibu, bukan sekadar sosok bermasalah.
Dalam film garapan sutradara Tumpal Tampubolon, Marissa berperan sebagai Mama, seorang ibu yang hidup bersama putranya, Johan, yang diperankan Yusuf Mahardika. Kehidupan mereka berubah ketika Johan bertemu Arumi (diperankan Zulfa Maharani), yang memicu dinamika emosional dalam hubungan keluarga tersebut.
“Saya melihat karakter ini sebagai ibu yang sangat mencintai anaknya. Kalau dibilang red flag, mungkin lebih tepat disebut kompleks,” ujar Marissa.
Tak Ada Tokoh Antagonis
Marissa menekankan bahwa Crocodile Tears tidak menghadirkan tokoh antagonis secara hitam-putih. Film ini mengangkat sisi manusiawi dari setiap karakter, termasuk keputusan-keputusan yang mereka ambil.
Menurutnya, setiap individu memiliki sisi kompleks yang tidak selalu terlihat.
“Semua manusia itu kompleks. Kadang tidak terlihat karena tidak mampu mengekspresikannya,” tambahnya.
Proses Panjang Hingga 1,5 Tahun
Produksi film ini terbilang tidak singkat. Marissa mengungkapkan bahwa proses casting hingga akhirnya syuting memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Hal ini tak lepas dari pendekatan detail dan kontemplatif yang diterapkan sang sutradara.
Sementara itu, Zulfa Maharani juga mengaku menjalani proses panjang, mulai dari audisi hingga workshop dan reading selama tiga bulan sebelum akhirnya memerankan Arumi.
Cerita tentang Pencarian “Rumah”
Karakter Arumi digambarkan sebagai sosok yang tengah mencari tempat untuk pulang. Pertemuannya dengan Johan menjadi titik balik emosional dalam cerita.
Film ini bukan hanya tentang konflik keluarga, tetapi juga perjalanan emosional tiap karakter dalam menemukan makna hubungan, cinta, dan identitas.
Tayang Mulai 7 Mei 2026
Crocodile Tears resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Film ini menjadi debut penyutradaraan panjang bagi Tumpal Tampubolon setelah melalui proses pengembangan bertahun-tahun.
Dengan pendekatan cerita yang realistis dan karakter yang kuat, film ini diharapkan menghadirkan perspektif baru tentang relasi keluarga dan dinamika emosi manusia.
Melalui Crocodile Tears, Marissa Anita menegaskan bahwa label “red flag” tidak selalu relevan untuk menggambarkan karakter ibu dalam film. Justru, kompleksitas emosi dan keputusan yang diambil menjadi inti dari cerita yang ingin disampaikan.













