Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Menag Nasaruddin Umar: Diplomasi Agama Bisa Jadi Jalan Keluar Kebuntuan Dialog Global

Menteri Agama saat doorstop usai pembukaan Moroccan Week di Jakarta, Sabtu.(Dok Menag )

JAKARTA|| Radarpost.id

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai diplomasi keagamaan memiliki peran strategis dalam meredakan konflik dan mengatasi kebuntuan dialog formal di tengah dinamika geopolitik dunia.

Menurut Nasaruddin, pendekatan berbasis nilai agama dan spiritualitas dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan pihak-pihak yang memiliki perbedaan pandangan, sekaligus membangun kepercayaan dan pemahaman bersama.

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri pembukaan Moroccan Week di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

“Pendekatan diplomasi keagamaan dan nilai spiritualitas memiliki kekuatan mediasi yang esensial untuk menjembatani perbedaan, mengatasi kebuntuan dialog formal, serta membangun pemahaman bersama,” kata Nasaruddin.

Dia mengatakan, gagasan mengenai diplomasi keagamaan tersebut sebelumnya juga disampaikan dalam konferensi internasional di Vatikan yang mempertemukan tokoh lintas agama dan perwakilan sejumlah negara Muslim maupun Kristen.

Nasaruddin menilai Indonesia dan Maroko memiliki modal penting untuk memperkuat diplomasi perdamaian dunia. Kedua negara dinilai mempunyai pengalaman dalam menjaga kerukunan umat beragama serta membangun keterbukaan dialog lintas agama.

Menurut dia, hubungan antarnegara dan komunitas keagamaan perlu dibangun atas dasar kepercayaan, komunikasi terbuka, dan sikap saling menghormati, termasuk terhadap kelompok minoritas.

Rumah Ibadah Jadi Ruang Dialog Kemanusiaan

Nasaruddin juga menyoroti pentingnya memperluas fungsi rumah ibadah di tengah kehidupan masyarakat modern. Dia mencontohkan pengelolaan Masjid Istiqlal yang dinilai dapat menjadi model keterbukaan dan interaksi sosial lintas kelompok.

Dia menegaskan, rumah ibadah tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menjalankan ritual keagamaan. Lebih dari itu, masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya perlu menjadi ruang perjumpaan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Rumah ibadah, baik masjid, gereja, maupun tempat ibadah lainnya, tidak boleh hanya dimaknai sebatas tempat peribadatan ritual, tetapi harus mampu menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan yang terbuka dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Dia berpandangan, berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan juga harus dapat dicarikan solusinya melalui peran rumah ibadah. Sebab, pengabdian kepada Tuhan seharusnya diwujudkan melalui pelayanan dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Indonesia dan Maroko Dinilai Punya Posisi Strategis

Lebih lanjut, Nasaruddin menyebut Indonesia dan Maroko memiliki kedekatan karakter keislaman yang ditandai dengan tradisi sufistik, tarekat, serta kesamaan dalam sejumlah ekspresi seni dan budaya.

Dia bahkan mengibaratkan kedua negara sebagai negara kembar meski secara geografis berada di ujung timur dan barat dunia Islam. Pandangan tersebut merujuk pada pemikiran antropolog Clifford Geertz.

“Walaupun jaraknya jauh, Indonesia dan Maroko ini seperti negara kembar karena disatukan oleh kedekatan spiritual, tradisi Islam sufistik, tarekat, dan kesenian yang sangat mirip,” tutur Nasaruddin.

Kesamaan tersebut, menurut dia, menjadi modal bagi Indonesia dan Maroko untuk memperkuat posisi sebagai representasi Islam moderat dan toleran di tingkat internasional.

Nasaruddin optimistis kedua negara dapat menjadi kekuatan baru atau rising stars dalam perkembangan dunia Islam modern yang damai, terbuka, dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Masa depan dunia Islam yang modern dan damai ada di Indonesia dan Maroko. Keduanya memiliki posisi strategis untuk tampil sebagai rising stars di kancah global,” katanya.

Kemenag Perluas Kerja Sama dengan Maroko

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengungkapkan rencana Kementerian Agama memperluas kerja sama akademik dengan Maroko.

Kemenag berencana menggelar konferensi internasional pada 2027 dengan menghadirkan ulama dan akademisi terkemuka dari Maroko. Kolaborasi tersebut juga akan melibatkan 58 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia.

“Tahun depan kami akan menggelar konferensi internasional dengan mengundang para ulama dan akademisi Maroko, sekaligus memperluas kolaborasi akademik dengan 58 PTKIN di Indonesia,” ujarnya.

Nasaruddin berharap kerja sama tersebut tidak hanya memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Maroko, tetapi juga mendorong kedua negara mengambil peran lebih besar dalam menyuarakan perdamaian dan moderasi beragama di tingkat global.