Sulawesi Tengah|| Radarpost.id
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan tantangan besar yang dihadapi masyarakat Indonesia di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Ia menyebut kondisi ini sebagai fenomena multiple shock yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pemahaman keagamaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri kegiatan Penguatan Kinerja ASN Kementerian Agama di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (1/4/2026).
Menurut Nasaruddin, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), chip, dan internet yang kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda telah memicu technological shock. Dampaknya, lanjut dia, merembet pada theological shock atau pergeseran cara pandang masyarakat terhadap agama.
“Terjadi pergeseran dari teologi tradisional menuju pemikiran yang lebih rasional, bahkan cenderung liberal, namun sering kali kehilangan fondasi akidah yang kokoh,” ujar Nasaruddin.
Ia menilai, kondisi tersebut menempatkan umat pada posisi yang tidak mudah, yakni di antara dua kutub ekstrem: radikalisme dan liberalisme. Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi juga mendorong masyarakat masuk ke era post-truth, di mana kebenaran kerap dikalahkan oleh opini publik, kekuatan media, dan kepentingan politik.
Tak hanya itu, Menag juga menyoroti fenomena desakralisasi alam. Menurut dia, kemajuan teknologi berpotensi membuat manusia merasa mampu menaklukkan alam tanpa mempertimbangkan nilai moral dan spiritual, yang pada akhirnya berdampak pada kerusakan lingkungan.
Dalam konteks pendidikan, Nasaruddin mengakui bahwa AI membawa manfaat, termasuk dalam mendukung proses belajar di pesantren dan madrasah. Namun, ia mengingatkan adanya risiko berkurangnya nilai barakah akibat minimnya interaksi langsung antara guru dan murid.
“Interaksi langsung atau tawajuh tetap penting. Jangan sampai teknologi justru menghilangkan esensi pembelajaran itu sendiri,” katanya.
Lebih jauh, Nasaruddin menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Kementerian Agama tidak semata-mata ditentukan oleh capaian administratif, seperti laporan keuangan atau penghargaan formal.
“Kesuksesan sejati adalah ketika kita mampu mendekatkan umat dengan ajaran agamanya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, semakin dekat masyarakat dengan nilai-nilai agama yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka semakin besar pula keberhasilan Kementerian Agama. Sebaliknya, jika jarak antara umat dan ajaran agama semakin lebar, hal itu menjadi indikator belum optimalnya kinerja.
Menag juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, untuk mengesampingkan perbedaan internal dan memperkuat persatuan dalam menjaga akidah umat.
“Kita perlu kerja sama yang solid, mengesampingkan perbedaan mikro demi tujuan besar menjaga keutuhan dan kekuatan umat,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, Nasaruddin meresmikan sejumlah gedung Kantor Urusan Agama (KUA) dan madrasah yang dibangun melalui pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun anggaran 2025 di wilayah Sulawesi Tengah.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat layanan keagamaan sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan berbasis nilai-nilai spiritual di tengah tantangan era digital.













