Jakarta|| Radarpost.id
Pelaksanaan ibadah haji 2026 di bawah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dinilai membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak hanya soal layanan ibadah, sektor konsumsi, suvenir, hingga pengelolaan dam disebut memiliki potensi ekonomi mencapai ratusan miliar rupiah.
Hal itu disampaikan Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2024-2025, Mukti Ali Qusyairi, dalam tulisannya mengenai pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah.
Menurutnya, ada perbedaan besar dalam pengelolaan haji setelah pemerintah membentuk Kemenhaj di era Presiden Prabowo Subianto. Salah satu yang paling menonjol ialah hadirnya Direktorat Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah.
“Selama ini Indonesia hanya menjadi pasar dan konsumen. Sekarang ada upaya agar uang jemaah haji bisa kembali berputar di dalam negeri,” tulis Mukti Ali.
Beras Lokal untuk Jemaah Haji Indonesia
Kemenhaj mulai mendorong penggunaan produk lokal untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia. Tahun ini, pemerintah mengirim 100 ton bumbu pasta dan makanan siap saji dari Indonesia ke Arab Saudi.
Selain itu, sekitar 3.900 ton beras lokal juga disiapkan untuk konsumsi jemaah haji Indonesia 2026 melalui kerja sama dengan Bulog.
Langkah ini dinilai dapat membantu petani dalam negeri sekaligus memperkuat program swasembada pangan pemerintah.
“Jika kebutuhan haji menggunakan produk lokal, maka uangnya kembali ke masyarakat Indonesia, terutama petani dan pelaku usaha kecil,” ujarnya.
Jemaah Haji RI Disebut Paling Royal Belanja
Selain konsumsi, sektor suvenir haji dan umrah juga disebut memiliki potensi ekonomi besar. Mukti mengungkapkan para pedagang di sekitar Masjid Nabawi mengakui jemaah asal Indonesia menjadi salah satu pembeli paling aktif.
Menurut para pedagang, banyak jemaah Indonesia membeli tasbih, parfum, mainan anak, hingga berbagai oleh-oleh khas Tanah Suci dalam jumlah besar.
Menariknya, sebagian produk yang dijual di Madinah dan Makkah ternyata berasal dari Indonesia seperti tasbih kuka, kayu gaharu, hingga berbagai aksesori lainnya.
“Pedagang di Tanah Suci bahkan hafal pusat perdagangan di Indonesia seperti Tanah Abang, Glodok, hingga Bandung karena rutin belanja barang dari Indonesia,” katanya.
Ia menilai pemerintah perlu memanfaatkan potensi tersebut agar produk UMKM Indonesia bisa menjadi pemain utama di pasar suvenir haji dan umrah.
Potensi Dam Haji Tembus Rp 773 Miliar
Potensi ekonomi terbesar disebut berasal dari penyembelihan dam bagi jemaah haji Indonesia yang menjalankan haji tamattu’.
Dengan jumlah jemaah sekitar 221 ribu orang, kebutuhan kambing dam diperkirakan mencapai 221 ribu ekor. Jika satu dam bernilai Rp 3,1 juta hingga Rp 3,5 juta, maka total perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 685 miliar sampai Rp 773 miliar.
Mukti menilai dana sebesar itu berpotensi menggerakkan ekonomi peternak kambing dan domba di Indonesia jika pelaksanaan dam dilakukan di dalam negeri.
Ia juga menilai distribusi daging dam dapat mendukung program penurunan stunting dan gizi buruk pemerintah.
Polemik Dam di Indonesia
Meski demikian, pelaksanaan dam di Tanah Air masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.
Sebagian ulama menyatakan dam harus dilakukan di Tanah Suci, sementara sebagian lainnya membolehkan penyembelihan dan distribusi dilakukan di negara asal jemaah.
Mukti menyebut sejumlah lembaga dan ulama di Indonesia mulai membuka ruang kebolehan dam dilakukan di dalam negeri, termasuk hasil bahtsul masail pesantren hingga pendapat Muhammadiyah.
Menurutnya, jika pemerintah telah menetapkan kebijakan resmi terkait dam di Indonesia, maka keputusan itu dapat menjadi solusi ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat.
“Kemanfaatannya sangat besar untuk masyarakat, peternak, hingga program penanganan stunting nasional,” pungkasnya.













