PATI || RadarPost.id
Proyek betonisasi jalan yang menjadi sasaran utama program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Kodim 0718/Pati terus menunjukkan progres signifikan. Hingga Kamis (7/5/2026), pembangunan jalan yang membelah area persawahan tersebut dilaporkan telah mencapai angka 61 persen.
Jalan sepanjang 950 meter dengan lebar 4 meter ini diproyeksikan menjadi “urat nadi” baru bagi para petani dan warga desa setempat. Dengan ketebalan beton mencapai 0,16 meter, akses ini dirancang untuk menahan beban transportasi hasil bumi yang selama ini terkendala infrastruktur.
Mengakhiri Trauma Jalan Lumpur
Selama bertahun-tahun, para petani di wilayah tersebut harus bergelut dengan jalur tanah yang sulit dilalui, terutama saat musim penghujan. Kehadiran betonisasi ini bukan hanya soal pembaruan fisik, melainkan solusi nyata untuk efisiensi distribusi hasil panen.
Dansatgas TMMD Reguler ke-128, Letkol Arm Timotius Yogi, M.Han, menegaskan bahwa percepatan pembangunan ini adalah bukti kehadiran TNI di tengah kesulitan rakyat.
“Kami berupaya membuka akses yang lebih baik bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Melalui TMMD, TNI membantu percepatan pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan vital warga desa,” jelas Letkol Arm Timotius Yogi.
Gotong Royong Jadi Mesin Penggerak
Meskipun pengerjaan terus “dikebut”, kualitas bangunan tetap menjadi prioritas utama. Kecepatan progres yang sudah melampaui separuh jalan ini tak lepas dari kuatnya sinergi antara anggota Satgas TMMD dan masyarakat yang terjun langsung ke lapangan setiap hari.
Semangat gotong royong warga desa menjadi mesin penggerak utama di balik molen-molen beton yang berputar di tengah sawah.
Dampak Ekonomi dan Konektivitas
Jika rampung sesuai target, jalan ini diprediksi akan memberikan efek domino bagi perekonomian lokal:
-
Efisiensi Waktu: Mempersingkat waktu tempuh antar desa.
-
Distribusi Panen: Menurunkan biaya angkut hasil pertanian karena akses kendaraan yang lebih mudah.
-
Konektivitas: Memperkuat hubungan antar wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat jalan rusak.
Kini, warga hanya tinggal menunggu hitungan minggu hingga jalan yang membelah persawahan tersebut dapat digunakan sepenuhnya, membawa harapan baru bagi kemajuan desa di masa depan.











