Depok || Radarpost.id
Saat menikah hal yang biasanya menjadi sesuatu yang membosankan dan tidak jarang menimbulkan perdebatan adalah busana yang dikenakan.
Acara ini biasanya menjadi momen yang sangat penting bagi keluarga calon pengantin karena mereka merasa bahwa pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Namun lain halnya dengan niat orang tua dari Lalita Dyah Pramesti Malbanat mempelai Wanita. Mendapatkan ide yang tak jarang orang tau. Uniknya lagi pengambilan Souvenir, melalui kupon.
“Dari pada saya beli barang barang souvenir, kebetulan ada yang jualan perabotan alat alat rumah tangga, kenapa tidak saya pake aja, dan juga bisa membantu pedangan keliling, buat para undangan biar pulang bawa barang di butuhkan, karena biasanya suvenir yg diberikan itu umum kadang tak terpakai dirumah,” kata Victor Malbanat saat menceritakan kepada radarpost.id, usai persepsi pernikahan putrinya.

“Tapi ini beda sesuai kebutuhan, insyallah barang itu terpakai sehingga bermanfaat, ternyata tak disangak sambutan poaitif masyrakat dan warga yg hadir, bahkan beberapa warga berkomentar, baru kali ini ada seperti ini, suvenir sesui kebutuhan, jd bisa kepakai/ bermanfaat,” ucap Viktor, dengan gembiranya.
“Akhirnya ya sudah saya buat tulisan silahkan ambil sesuai kupon, pilih sesuai kebutuhan anda, ini kan jarang terjadi di manapun,” tambahnya.
Daripada bingung dalam memilih gaun, kenapa tidak mencoba menggunakan gaun pengantin adat seperti yang direnungkan orang tua orang tua dari Lalita Dyah Pramesti Malbanat, SE.
Tenang saja meskipun masih ada unsur adatnya, tapi gaun yang satu ini tetap terkesan modern dan bahkan memiliki detail yang tidak kalah cantik.
Di pernikahan, Lalita Dyah Pramesti Malbanat, SE (putri kedua dari Victor D. S Malbanat. MSc dan Asri Wahyuningdyah) dengan Raka Riandika, S.Ikom (putra ketiga dari Ronnie Salim Malassa dan Riawatie), menggunakan baju modern sampai tradisional, yang mencuri perhatian yakni ketika keduanya mengenakan baju tradisional Papua dan Depok/Betawi.
Uniknya, sang mempelai pria tak bisa langsung melangsungkan akad karena harus melawati prosesi buka palang pintu terlebih dahulu.

Dalam bahasa Depok atau Betawi, palang diartikan sebagai penghalang supaya orang lain atau sesuatu bisa lewat, dan pintu ialah tempat untuk masuk.
“Kegiatan ini terjadi ketika iring-iringan ‘abang raja muda’ (panggilan untuk pengantian pria) pada pagi hari, Minggu (12/10/2025) hendak masuk ke rumah ‘tuan mpok putri’ (pengantin perempuan). Ketika hendak memasuki rumah, rombongan dicegat wakil tuan rumah. Menghadapi hadangan ini, rombongan pengantin pria kagak mau kalah tetap bekutet,” ujar Viktor Malbanat.
Supaya bisa masuk ke rumah untuk menjalankan prosesi akad nikah, kedua bela pihak membawa masing-masing tukang pantun dan jagoan silat alias jawara di kampungnya.
Bagaimana tidak, sepanjang tradisi buka palang pintu, kedua belah pihak diharuskan saling balas-membalas pantun. Bahkan, tak jarang dari berbalas pantun, warga yang yang menyaksikan palang pintu ikut larut dalam kejenakaan aksi balas pantun.

Prosesi palang pintu dimulai dengan memasang dekorasi di pintu masuk rumah calon pengantin, berupa umbul-umbul, janur kuning, manggar kelapa. Dekorasi tersebut berupa hiasan dari bunga-bunga yang terbuat dari kertas, kain, atau plastik.
Biasanya warna yang dipakai adalah warna merah atau kuning yang melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan.
“Ada beberapa orag pembawa kembang kelapa, penabuh rebana ketimpring yang akan mengiringi perjalanan rombongan. dimeriahkan dengan umbul umbul khan betawi,” kata Victor.
“Prosesi palang pintu dilakukan sebagai simbol untuk menentukan keseriusan calon pengantin dalam menjalani kehidupan berkeluarga yang suci dan berkah,” ungkapnya.
Selanjutnya, keluarga calon pengantin pria bertandang ke rumah calon pengantin wanita dengan membawa seserahan. Ada satu seserahan yang wajib ada pada prosesi ini yaitu seserahan berupa sirih, pinang, piring gantung, roti buaya dan gambir.
“Usai palang pintu, juga ada acara penyerahan bawaan dari pihak pengantin pria ke keluarga pengantin wanita,cerita Victor.

Umumnya keluarga calon pengantin pria juga biasanya membawa buah-buahan atau kue-kue sebagai simbol keberuntungan dan keharmonisan dalam pernikahan.
Setelah itu, keluarga kedua belah pihak akan makan bersama dan mengadakan acara adat dan penyerahan piring gantung adat papua sebagai simbol janji dan diterima secara adat papua.
Prosesi ini dipimpin langsung ketua kerukunan adat papua kota Depok DR Yan Herbert Riumbiak, SH,MCL.,untuk diserahkan untuk diserahkan ke keluarga wanita dari keluarga pria/pengantin pria guna mempersatukan hati dan jiwa kedua calon pengantin, diiringi lagi piring gantung’ Insos Kofiau.
Setelah itu, keluarga calon pengantin wanita akan menyambut kedatangan keluarga calon pengantin pria dan mempersilahkan masuk ke dalam rumah

Supaya dapat masuk ke rumah untuk menjalankan prosesi akad nikah, kedua bela pihak membawa masing-masing tukang pantun dan jagoan silat alias jawara di kampungnya. Bagaimana tidak, sepanjang tradisi buka palang pintu, kedua belah pihak diharuskan saling balas-membalas pantun.
Bahkan, tak jarang dari berbalas pantun, warga yang yang menyaksikan palang pintu ikut larut dalam kejenakaan aksi balas pantun.

Biasanya, sebagai syarat untuk dapat membuka palang pintu, mempelai pria minimal harus pandai mengaji, dan jago silat. Pembuktian itu tak hanya terlihat dari jual-beli serangan saat berduel, pun lewat saling berbalas pantun.
“kalau abang mau melamar harus bisa penuhi syaratnya. Ibarat kata bang: Buah atep buah kenari, burung kutilang di puhun kemboje, kala abang belum mantep kemari, mendingan pulang aje.”
“Kemudian pengantin mengikuti adat Papua, yaitu piring gantung yg terdapat didalamnya pinang sirih dan uang serahan sebagai mahar penyerahan piring gantung usai penyerahan piring gantung para kedua orang tua dan para undangan menikmati musik dan berjoget,” urai Viktor.

Oleh sebab itu, kedua keluarga besar langsung saling bersalaman dan berpelukan dalam rangka mengurangi ketegangan saat berlangsung tradisi pernikahan.
Sebelumnya, foto prewedding kedua mempelai terlihat mengenakan berbagai macam pakaian tradisional Indonesia. Seperti khas adat Papua, Betawi, Sunda, Jawa, dan Nasional.
“Terakhir kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ketua DPRD Kota Depok Ade Supriatna, yang telah bersedia menjadi saksi di pernikahan anak kami, dan juga bapak Walikota Depok, Kapolres Metro Depok yang telah sudi mengantar kedua mempelai jadi pengawal di jalan menuju pelaminan,” tuturnya. (**).













