JAKARTA|| Radarpost.id
Bagi Asisten Sutradara Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar, Salma Suhud, tantangan terbesar dalam mementaskan sosok bukan terletak pada menghadirkan penyair legendaris itu sebagai tokoh utama. Tantangan sesungguhnya, menurut dia, adalah bagaimana seorang aktor mampu menghidupkan berbagai lapisan kesadaran yang membentuk dunia batin Chairil di atas panggung.
“Tantangan terbesar pertunjukan ini ada pada metode aktingnya. Di atas panggung hanya hadir satu aktor, tetapi ia harus mampu menghidupkan berbagai tokoh sekaligus berbagai kesadaran yang lahir dari dunia batin Chairil Anwar,” kata Salma Suhud.
Menurut Salma, pendekatan tersebut menjadi ciri utama Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar, Naskah yang ditulis dan disutradarai Iswadi Pratama tidak menyajikan kisah hidup Chairil Anwar secara linear, melainkan membangun ruang metafiksi yang mempertemukan sang penyair dengan sejumlah tokoh sastra dunia.
Di antaranya Mephistopheles dari Faust karya Goethe hingga Gregor Samsa dari Metamorphosis karya Franz Kafka. Bagi Salma, kehadiran tokoh-tokoh tersebut bukan sekadar elemen dramatik, melainkan perangkat artistik untuk menyingkap pergulatan pemikiran Chairil Anwar.
“Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar, bukan sekadar monolog tentang Chairil Anwar. Naskah ini mengajak penonton masuk ke dalam dunia batin Chairil melalui dialog-dialog imajiner dengan tokoh-tokoh sastra dunia. Mereka menjadi representasi dari pergulatan tentang kehidupan, kematian, kebebasan, kesepian, hingga pencarian makna hidup,” ujarnya.
Salma menilai konsep tersebut menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses artistik. Seorang aktor tidak hanya dituntut berganti karakter, tetapi juga berpindah dari satu kesadaran ke kesadaran lain tanpa memutus alur emosi yang menjadi inti pertunjukan.
Baginya, pendekatan itu sekaligus memperlihatkan bahwa teater dapat menjadi medium untuk membaca ulang Chairil Anwar melalui perspektif yang lebih kontemporer.
Sosok penyair tidak hanya diposisikan sebagai figur sejarah sastra Indonesia, tetapi juga sebagai ruang dialog yang terus relevan dengan berbagai pertanyaan tentang eksistensi manusia.
Setelah tampil dalam rangkaian pementasan sebelumnya, Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar dijadwalkan kembali dipentaskan pada 16 Agustus 2026 di Galeri Indonesia kaya.
Pementasan tersebut akan kembali menghadirkan eksplorasi artistik atas dunia batin Chairil Anwar melalui pendekatan metafiksi yang menjadi karakter utama karya ini.













