Jakarta || Radarpost.id
Program Sekolah Rakyat resmi memulai tahun ajaran baru 2025/2026 pada Senin (14/7/2025). Sebanyak 63 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia mulai menjalankan proses belajar mengajar hari ini, sementara 37 titik lainnya dijadwalkan menyusul pada akhir bulan ini.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul mengungkapkan bahwa lebih dari 9.700 siswa dari kelompok miskin dan miskin ekstrem telah terdaftar sebagai peserta didik. Program ini digagas sebagai bentuk afirmasi negara terhadap anak-anak dari keluarga prasejahtera agar tetap mendapatkan akses pendidikan layak.
“Untuk Sekolah Rakyat tidak ada tes akademik. Yang penting mereka berasal dari kelompok desil satu, yaitu keluarga miskin ekstrem,” ujar Gus Ipul
Meski tanpa seleksi akademik, siswa tetap menjalani proses pemetaan awal. Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Prof. Mohammad Nuh menjelaskan, setiap anak akan dipetakan kemampuan akademik, kondisi fisik, dan kesehatan psikologisnya sejak hari pertama masuk.
“Kalau ada yang sakit pun tidak ditolak, justru diobati. Kami ingin tahu perkembangan mereka secara menyeluruh: fisik, mental, dan intelektual. Jadi kita tahu perubahan anak itu sebelum dan sesudah sekolah,” jelasnya.
Sekolah Rakyat menggunakan kurikulum nasional yang dilengkapi dengan model Multi Entry–Multi Exit, memberikan ruang fleksibel bagi siswa untuk belajar sesuai kemampuan dan kesiapan masing-masing. Kurikulum ini dirancang menyentuh tiga aspek utama: fisik, psikologis, dan akademik.
Tak hanya itu, sistem pembelajaran juga didukung Learning Management System (LMS) berbasis digital yang memungkinkan pemantauan real-time dari pusat. “Pak Menteri bisa langsung melihat dashboard dari meja kerjanya. Mulai dari kehadiran siswa, pelajaran yang diajarkan, hingga siapa guru yang mengajar,” kata Prof. Nuh.
Menjawab keraguan publik terkait kualitas, Plt. Kepala BSKAP Kemendikdasmen, Toni Toharudin menegaskan bahwa mutu Sekolah Rakyat tidak akan kalah dari sekolah formal lainnya. “Kami pastikan, standar yang digunakan tetap tinggi. Hanya saja pendekatannya lebih inklusif dan adaptif,” ujarnya.













