Jakarta|| Radarpost.id
Sosok Chairil Anwar kembali hadir di panggung pertunjukan. Namun kali ini bukan melalui pembacaan biografi atau deretan puisi yang telah akrab di telinga publik, melainkan melalui upaya membaca ulang kegelisahan batin penyair “Aku” itu dalam pertunjukan Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar.
Karya produksi Arsikarta bersama Bakti Budaya Djarum Foundation tersebut diperkenalkan dalam konferensi pers di Melting Pot, M Bloc Space, Jakarta Selatan, Senin (27/7). Pertunjukan dijadwalkan dipentaskan pada pertengahan Agustus mendatang.

Menurutnya, selama ini pembacaan terhadap Chairil lebih banyak berhenti pada perjalanan hidup maupun karya-karyanya, padahal masih ada ruang yang dapat ditafsirkan melalui seni pertunjukan.
“Kami tidak ingin berhenti pada sosok Chairil sebagai penyair. Yang ingin kami dekati justru ruang-ruang batinnya, kegelisahan yang melahirkan karya-karyanya. Di situlah pertunjukan ini dibangun,” ujar Vidi.
Pertunjukan sengaja mengambil latar fase akhir kehidupan Chairil Anwar. Pilihan tersebut bukan untuk mengisahkan kembali riwayat hidup sang penyair, melainkan menjadikannya titik tolak membaca pergulatan seorang manusia ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.
Pendekatan itu sekaligus menjadi alasan dipilihnya bentuk metafiksi yang memberi ruang bagi penonton untuk membangun tafsirnya masing-masing.
“Kami berharap penonton tidak hanya menyaksikan sebuah cerita, tetapi juga diajak berdialog dengan gagasan yang dibawa pertunjukan ini. Teater bagi kami adalah ruang untuk berpikir dan berkontemplasi.”
Menjaga Chairil Tetap Dekat dengan Penonton
Tantangan lain muncul dalam proses menerjemahkan gagasan tersebut ke atas panggung. Aktor Haikal Mubarok, yang memerankan Chairil Anwar, mengatakan proses kreatif dimulai bukan dari pencarian sosok penyair, melainkan memahami manusia di balik nama besar Chairil.

Ketika pertama kali membaca naskah yang selesai ditulis pada pertengahan 2025, Haikal mengaku sempat menduga cerita akan mengikuti pola biografi. Anggapan itu berubah setelah menjalani diskusi bersama tim kreatif.
“Saya kira awalnya akan sangat biografis. Ternyata naskah ini justru melihat Chairil sebagai manusia. Itu yang menurut saya menarik karena penonton diajak melihat sisi yang lebih dekat dengan kehidupan kita.”
Selama sekitar satu bulan latihan, bentuk pertunjukan beberapa kali mengalami perubahan. Tim kreatif sempat mengeksplorasi pendekatan surealis, tetapi kemudian memilih bentuk yang lebih realistis agar gagasan dalam naskah tetap dapat diterima penonton.
“Kami banyak mencoba berbagai kemungkinan. Pada akhirnya dipilih bentuk yang lebih realistis supaya teksnya tetap kuat dan penonton bisa mengikuti perjalanan emosinya tanpa kehilangan makna.”
Tantangan terbesarnya bukan menghafal dialog, melainkan menerjemahkan naskah melalui tubuh dan permainan aktor.
“Saya tidak merasa perlu mengubah teks karena menurut saya naskah ini sudah sangat kuat. Tugas saya adalah mencari cara agar tubuh aktor bisa menyampaikan gagasan itu kepada penonton.”
Tak Harus Mengenal Chairil Anwar
Pertunjukan yang nanti akan tampil di Galeri Indonesia kaya, berdurasi sekitar 45 menit itu dirancang agar tetap mudah diikuti, termasuk oleh penonton yang belum akrab dengan puisi-puisi Chairil Anwar.
“Kalaupun belum mengenal Chairil Anwar, penonton tetap bisa mengikuti pertunjukan ini karena yang dibicarakan adalah kegelisahan manusia. Itu sesuatu yang dekat dengan siapa pun.”
Ia berharap penonton tidak pulang hanya dengan mengingat sosok Chairil Anwar, tetapi juga membawa pertanyaan-pertanyaan baru mengenai kehidupan yang dipantulkan melalui pertunjukan tersebut.

Senada dengan itu, Vidi berharap karya ini dapat memperluas cara masyarakat memandang seni pertunjukan.
“Kalau setelah menonton muncul tafsir baru atau percakapan baru tentang Chairil Anwar, berarti tujuan pertunjukan ini tercapai.”













