Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Visiting Lecturer Program Fakultas Pertanian UB Bahas Dampak Perubahan Sosial terhadap Pertanian Modern

banner 120x600

MALANG RadarPost. Id

Universitas Brawijaya melalui Fakultas Pertanian menggelar Visiting Lecturer Program bertema Agricultural Sociology dengan subtema Social Change and its Impact in Agriculture, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting ini membahas pengaruh perubahan sosial terhadap perkembangan pertanian modern.
Program akademik internasional tersebut diselenggarakan oleh Laboratorium Sosiologi Pedesaan dan Pemberdayaan Masyarakat. Narasumber utama yang dihadirkan adalah Norsida Man dari Universiti Putra Malaysia.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Program Magister Sosiologi Fakultas Pertanian UB, Prof. Dr. Asihing Kustanti, serta Fitrotul Laili yang bertindak sebagai moderator.

Dalam paparannya, Prof. Norsida menjelaskan bahwa sektor pertanian saat ini menghadapi perubahan sosial yang sangat dinamis. Perkembangan teknologi, urbanisasi, globalisasi, perubahan perilaku konsumen, hingga meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pertanian modern.

“Berbagai faktor sosial seperti kemajuan teknologi, urbanisasi, globalisasi, serta perubahan perilaku konsumen terbukti memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan pertanian,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa sektor pertanian harus mampu beradaptasi agar dapat menjaga ketahanan pangan, mendukung mata pencaharian masyarakat pedesaan, sekaligus melindungi lingkungan.
Menurut Prof. Norsida, fenomena urbanisasi telah menyebabkan berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

Selain itu, alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi petani menjadi tantangan serius yang harus dihadapi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuka peluang besar melalui penerapan smart farming, kecerdasan buatan (AI), drone, Internet of Things (IoT), sensor digital, hingga sistem pertanian presisi yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Meski demikian, kesenjangan akses teknologi masih menjadi kendala utama, terutama bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan modal dan sarana.
Karena itu, Prof. Norsida menilai transformasi pertanian membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, investasi, pendidikan pertanian, dan kolaborasi lintas sektor agar berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Selain membahas teknologi, forum ini juga menyoroti isu ketahanan pangan global yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok pangan dunia.
“Pada akhirnya, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh komitmen masyarakat dan pemerintah dalam mendukung sektor ini demi terciptanya sistem pangan yang adil, tangguh, dan berkelanjutan,” tutupnya.

Kegiatan Visiting Lecturer Program ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama akademik internasional sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai tantangan dan peluang pembangunan pertanian berkelanjutan di era perubahan sosial dan digitalisasi global.