Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Dari Tukang Sapu ke Kursi Wamendes: Kisah Inspiratif Paiman Raharjo

Perjalanan hidup Paiman Raharjo menjadi bukti bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan.( Dok pribadi).
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Perjalanan hidup Paiman Raharjo menjadi bukti bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Dari seorang tukang sapu yang kerap mendapat ejekan, ia kini dikenal sebagai akademisi, pengusaha, sekaligus mantan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT).

“Saya ini dulu orang bawah banget,” ujar Paiman mengenang masa lalunya dalam wawancara di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Lahir di Klaten pada 15 Juni 1967, Paiman mengaku tumbuh dalam kondisi serba terbatas. Ia bahkan sempat hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP, yang membuatnya kerap menjadi bahan ejekan. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pemicu semangatnya untuk bangkit.

Menurutnya, kesuksesan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang berasal dari keluarga berada. Ia meyakini, kerja keras, ketekunan, doa, serta kebiasaan bersedekah menjadi kunci utama dalam mengubah nasib.

“Saya punya keyakinan bahwa kesuksesan bisa diperoleh siapa saja yang mau bekerja keras, pantang menyerah, berdoa, dan gemar bersedekah,” katanya.

Berbekal tekad tersebut, Paiman terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Guru Besar. Ia juga dipercaya memimpin sebagai rektor di sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan Universitas Jakarta International (UNIJI).

Pengalaman hidup dari bawah turut membentuk gaya kepemimpinannya yang empatik. Ia menekankan pentingnya memahami kondisi bawahan serta menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat.

“Kita harus melihat apa yang dihadapi bawahan. Masalah tidak boleh ditunda, harus segera diselesaikan,” ujarnya.

Tak hanya di bidang akademik dan pemerintahan, Paiman juga mengembangkan karier di dunia usaha. Ia diketahui memiliki bisnis di sektor properti, mulai dari rumah kos hingga pengembangan perumahan, serta menjabat sebagai komisaris di sejumlah perusahaan.

Di balik kesederhanaannya, Paiman juga memiliki latar belakang keturunan bangsawan dari Kerajaan Mataram. Ia merupakan keturunan Pangeran Ali Kesumo dan menyandang gelar Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Aryo (KPHA).

Meski demikian, ia menilai gelar tersebut tidak memiliki arti tanpa kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Apa artinya gelar kalau hidup kita tidak bermanfaat untuk orang lain,” katanya.

Melalui kisah hidupnya, Paiman berharap dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi keterbatasan.

Ia menegaskan, dengan tekad kuat dan doa orang tua, siapa pun memiliki peluang untuk mencapai kesuksesan, bahkan dari titik paling bawah sekalipun.