Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Ksatria Fest 3.0 Perkuat Ekosistem Tari Tradipop, Jembatani Tradisi dan Generasi Muda

Salah satunya melalui penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, festival tari tradipop tingkat nasional yang digagas Swargaloka sebagai ruang kompetisi, edukasi, sekaligus regenerasi pelaku seni tari Indonesia..(rr).
banner 120x600

JAKARTA|| Radarpost.id

Upaya memperkuat ekosistem tari Indonesia terus dilakukan melalui berbagai pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman. Salah satunya melalui penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, festival tari tradipop tingkat nasional yang digagas Swargaloka sebagai ruang kompetisi, edukasi, sekaligus regenerasi pelaku seni tari Indonesia.

Festival yang berlangsung pada 17 Juni hingga 4 Juli 2026 tersebut menjadi bagian dari peringatan 33 tahun Swargaloka, lembaga seni yang telah lama berkiprah dalam pengembangan seni pertunjukan dan pendidikan budaya di Indonesia.

Dalam konferensi pers yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Rabu (17/6/2026), Pendiri Swargaloka Suryandoro menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilepaskan dari dinamika perkembangan masyarakat dan generasi muda.

Menurut dia, seni tradisi harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

“Seni tradisi harus berjalan sesuai laju perkembangan zaman. Budaya harus tetap lestari, tetapi juga memiliki dampak dan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat saat ini,” ujar Suryandoro.

Ia mengisahkan, Swargaloka lahir pada 1993 dari kegelisahan melihat terbatasnya ruang berkarya bagi para seniman muda setelah menyelesaikan pendidikan seni.

Dari sebuah sanggar sederhana di Yogyakarta, Swargaloka kemudian berkembang menjadi wadah bagi ribuan pelajar dan seniman untuk belajar, berkreasi, sekaligus menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan profesional mereka.

“Perjalanan panjang tidak dibangun oleh panggung besar, melainkan oleh orang-orang yang bertahan, mencintai proses, dan terus berkarya meskipun menghadapi berbagai tantangan,” kata dia.

Tradipop sebagai Pintu Masuk Mengenal Budaya

Creative Director sekaligus Tim Artistik Ksatria Fest 3.0, Bathara Saverigading, menjelaskan bahwa festival tersebut lahir dari pengalaman Kelompok Tari Ksatria setelah meraih juara pertama dalam ajang Indonesia Mencari Bakat pada 2021.

Pengalaman berinteraksi dengan industri hiburan modern mendorong lahirnya konsep tradipop, yakni pendekatan yang menggabungkan unsur tradisi dengan kemasan yang lebih ringkas, atraktif, dan komunikatif.

Menurut Bathara, konsep tersebut berangkat dari kebutuhan industri kreatif yang menuntut karya seni dapat diterima secara cepat oleh publik tanpa menghilangkan identitas budayanya.

“Dalam banyak kebutuhan media dan industri hiburan, karya tari tradisi sering kali harus dipersingkat karena keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai format yang sejak awal dirancang lebih singkat dan kuat secara visual, tetapi tetap berakar pada nilai budaya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tradipop bukanlah upaya menggantikan tari tradisional, melainkan menjadi gerbang awal bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya Nusantara.

Bagi Bathara, tantangan terbesar pelestarian budaya saat ini bukan terletak pada kurangnya minat generasi muda, melainkan bagaimana menghadirkan tradisi dalam bentuk yang dekat dengan keseharian mereka.

“Kami ingin tradisi menjadi sesuatu yang akrab dan dapat dimiliki oleh anak muda. Seni budaya tidak boleh terasa jauh atau eksklusif,” katanya.

Regenerasi Penari dan Pemutakhiran Tradisi

Pandangan serupa disampaikan perwakilan Dewan Juri Ksatria Fest 3.0, Siko Setyanto. Menurut dia, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga bentuk lama, tetapi juga melalui upaya pemutakhiran agar tetap relevan dengan perkembangan masyarakat.

“Tradisi tidak boleh diperlakukan seperti museum yang hanya dikunjungi sesekali. Tradisi harus hidup dan terus diperbarui agar tetap menjadi identitas masyarakat Indonesia,” ujar Siko.

Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam proses tersebut karena mampu menghadirkan perspektif baru dalam mengolah dan mengembangkan karya berbasis tradisi.

Meski demikian, ia mengingatkan para peserta untuk tidak terjebak pada keinginan menciptakan karya yang instan demi mendapatkan perhatian publik.

Menurut dia, kualitas artistik tetap harus dibangun melalui proses latihan, eksplorasi, dan pemahaman budaya yang mendalam.

Melibatkan Publik dalam Penilaian

Tahun ini, Ksatria Fest 3.0 menghadirkan sejumlah inovasi. Selain membuka kategori kelompok, penyelenggara juga menghadirkan kategori solo dan duet.

Para pemenang nantinya akan memperoleh gelar kehormatan, yakni Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk kategori duet, serta Wira Ksatria Tari Indonesia untuk kategori solo.

Berbeda dengan kompetisi tari pada umumnya, proses penilaian tidak hanya dilakukan oleh lima dewan juri profesional, tetapi juga melibatkan 100 pemilih (voters) dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, media, pecinta seni, hingga masyarakat umum.

Sistem tersebut dirancang untuk memberikan perspektif yang lebih luas terhadap kualitas sebuah karya, baik dari sisi artistik maupun kemampuannya menjangkau publik.

Peserta dari Berbagai Daerah

Sebanyak 38 kelompok tari dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti proses seleksi awal Ksatria Fest 3.0. Setelah melalui tahap kurasi, sebanyak 15 kelompok dinyatakan lolos ke semifinal kategori Laskar Ksatria Tari Indonesia.

Mereka berasal dari Surakarta, Bandung, Ponorogo, Batam, Sidoarjo, Pontianak, Lampung, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Sukabumi, Mempawah, Gorontalo, Yogyakarta, dan Belitung.

Babak semifinal hingga malam puncak akan berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 4 Juli 2026.

Melalui penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, Swargaloka berharap dapat melahirkan generasi baru penari, koreografer, dan kreator seni yang tidak hanya menguasai teknik pertunjukan, tetapi juga mampu menjadikan budaya Indonesia tetap relevan di tengah perubahan zaman.