Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Sigit Wardana Rilis Video Lirik ‘Bis Kota’, Potret Perjalanan Warga Jakarta

Menggunakan transportasi publik dan sejumlah sudut ibu kota sebagai latar, video tersebut menerjemahkan cerita lagu tentang perjalanan, perjuangan, hingga menemukan kebahagiaan di tengah rutinitas.(Dok Sigit Wardana)

JAKARTA|| Radarpost.id

Musisi Sigit Wardana menghadirkan video lirik terbaru untuk lagu “Bis Kota” dengan mengangkat kehidupan masyarakat urban di tengah hiruk pikuk Jakarta. Menggunakan transportasi publik dan sejumlah sudut ibu kota sebagai latar, video tersebut menerjemahkan cerita lagu tentang perjalanan, perjuangan, hingga menemukan kebahagiaan di tengah rutinitas.

Video lirik “Bis Kota” membawa penonton mengikuti perjalanan Sigit dari trotoar, halte, eskalator, hingga berada di dalam bus TransJakarta yang dipenuhi penumpang. Visual tersebut dibuat dengan pendekatan candid dan street style agar suasana Jakarta terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi Sigit, “Bis Kota” bukan hanya cerita mengenai perjalanan menggunakan transportasi umum. Lagu tersebut juga menjadi gambaran tentang perjalanan hidup seseorang ketika harus menghadapi berbagai dinamika kehidupan di kota besar.

“Ide utamanya adalah menangkap realitas dan denyut nadi keseharian masyarakat urban. Walaupun liriknya bercerita tentang betapa melelahkannya berebut kursi dan berdesakan, pesan yang ingin saya sampaikan justru tentang ketangguhan dan kebahagiaan,” ujar Sigit Wardana.

TransJakarta Jadi Bagian dari Cerita ‘Bis Kota’

Dalam video lirik tersebut, TransJakarta menjadi salah satu elemen visual utama. Halte, bus, eskalator, hingga keramaian penumpang dimanfaatkan untuk memperkuat suasana yang dibangun melalui lagu.

Sigit menilai transportasi publik menjadi bagian penting dari wajah Jakarta saat ini. Ruang tersebut mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu perjalanan.

“TransJakarta saat ini adalah ikon mobilitas yang paling mewakili wajah kota modern. TJ menjadi ruang bertemunya berbagai macam karakter orang dari berbagai latar belakang, yang persis seperti cerita dalam lagu ini,” katanya.

Pemilihan transportasi publik juga berkaitan dengan pengalaman pribadi Sigit. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengaku kerap menggunakan TransJakarta, kereta, MRT, LRT, hingga ojek online untuk beraktivitas.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan melalui “Bis Kota”.

“Saya juga pernah dan masih merasakan momen-momen perjuangan yang sama—harus berdesakan, mengejar waktu, dan menembus hiruk-pikuk. Ini adalah potret jujur dari pengalaman yang saya yakin juga dirasakan hampir semua orang,” tuturnya.

Perjalanan Jakarta Berujung ke Studio Musik

Konsep video lirik “Bis Kota” dibuat mengikuti alur perjalanan dalam lagu. Sigit terlihat menjalani aktivitas di ruang publik sebelum akhirnya masuk ke studio rekaman.

Adegan tersebut memiliki makna personal bagi Sigit. Perjalanan panjang di tengah kesibukan Jakarta pada akhirnya membawanya kembali kepada musik.

“Sepanjang dan selelah apa pun perjalanan di luar sana, ia akan selalu membawa saya ke tempat di mana saya merasa bahagia, yaitu musik,” ungkapnya.

Kehadiran Sigit di tengah keramaian juga menjadi gambaran tentang kehidupan masyarakat urban. Meski berada di dalam bus yang penuh sesak, ia tetap ditampilkan dengan ekspresi tenang.

Visual tersebut berkaitan dengan pesan dalam lirik “memang susah tapi ku tetap bahagia”, yang menggambarkan bagaimana seseorang tetap berusaha menikmati perjalanan meski harus menghadapi berbagai kesulitan.

Sigit Wardana Bawa Jakarta yang Apa Adanya

Sejumlah kawasan Jakarta turut menjadi bagian dari video lirik, termasuk area Halte Bundaran HI, jalan protokol, serta beberapa titik transportasi publik.

Tim produksi memilih pendekatan visual candid agar Jakarta tampil secara natural. Keramaian masyarakat yang ditemui selama proses syuting justru menjadi bagian dari cerita.

Konsep tersebut dikembangkan bersama AFE Records dan manajemen Sigit Wardana. Rifqi Kumsi bertindak sebagai videografer.

Menurut Rifqi, Jakarta sengaja ditempatkan bukan sekadar sebagai latar, tetapi sebagai bagian penting dari cerita “Bis Kota”.

“Kami ingin menunjukkan hiruk pikuk kota Jakarta yang meskipun selalu ramai dan padat namun tetap ada kenangan di setiap perjalanannya,” kata Rifqi.

Syuting ‘Bis Kota’ Hadapi Tantangan di Ruang Publik

Pengambilan gambar di ruang publik membuat proses produksi video lirik “Bis Kota” memiliki tantangan tersendiri. Tim harus menyesuaikan diri dengan kondisi halte, bus yang sedang beroperasi, hingga aktivitas masyarakat.

Salah satu momen yang cukup menantang terjadi saat tim mengejar suasana matahari terbenam di Stasiun Manggarai.

“Di antaranya adalah momen di mana kita mengejar waktu keliling Jakarta untuk mendapatkan sunset di Stasiun Manggarai, namun saat sampai pun cuaca yang awalnya terik menjadi berawan. Akhirnya kita pun berimprovisasi menjadi siluet di balik langit yang berawan,” ujar Rifqi.

Kondisi tersebut akhirnya justru menjadi bagian dari visual video. Tim memanfaatkan perubahan cuaca untuk menghasilkan gambar yang tetap sesuai dengan konsep perjalanan.

‘Bis Kota’ Jadi Metafora Perjalanan Musik Sigit

Bagi Sigit Wardana, “Bis Kota” juga memiliki makna yang lebih personal. Perjalanan yang digambarkan dalam lagu tersebut menjadi metafora perjalanan kariernya di industri musik.

Menurutnya, perjalanan bermusik memiliki fase ketika seseorang harus bersabar, menghadapi berbagai tantangan, dan tetap berjalan menuju tujuan.

“Perjalanan di ‘Bis Kota’ ini bisa dibilang menjadi metafora untuk perjalanan panjang karier saya di industri musik. Ada kalanya kita harus berdiri, berdesakan, dan bersabar melewati berbagai dinamika,” ujar Sigit.

Ide visual tersebut bahkan sudah muncul ketika lagu “Bis Kota” diproduksi. Sigit sejak awal membayangkan atmosfer jalanan, suara mesin, serta suasana berdesakan sebagai bagian dari karakter lagu.

“Saat lagu ini diproduksi, ambience jalanan, suara mesin, dan suasana berdesakan itu sudah sangat kuat terbayang di kepala. Jadi, ketika ide jalan-jalan keliling kota ini diajukan untuk format lyric video, rasanya sangat pas dan sesuai dengan lagunya,” katanya.

Melalui video lirik “Bis Kota”, Sigit Wardana kemudian memadukan musik dengan gambaran kehidupan masyarakat Jakarta. Perjalanan menggunakan transportasi publik, kepadatan kota, hingga suasana jalanan menjadi medium untuk menyampaikan cerita tentang kehidupan dan perjalanan bermusik.

Pada akhirnya, “Bis Kota” tidak hanya menjadi cerita perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Lagu tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana masyarakat kota menjalani rutinitas, mengejar waktu, menghadapi kepadatan, dan tetap menemukan kebahagiaan dalam perjalanan.