Badung || Radarpost.id
PT PLN (Persero) Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali) melalui Unit Pelaksana Pengatur Beban Bali (UP2B Bali) bersama Yayasan Baruna Balarama Fantasi mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengenal serta mengelola potensi hasil mangrove melalui edukasi dan praktik pengolahan buah lindur di Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Kegiatan yang melibatkan 50 masyarakat tersebut menjadi bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Gerakan RIMBA atau Rehabilitasi Mangrove Bersama.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada buah lindur sebagai salah satu hasil dari pohon mangrove. Peserta memperoleh edukasi mengenai potensi buah lindur sekaligus mengikuti praktik pengolahannya hingga menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian dikembangkan menjadi bahan pangan berupa mie dan bakso.
Pengolahan secara langsung memberikan pengalaman kepada masyarakat mengenai pemanfaatan hasil mangrove menjadi produk yang memiliki nilai guna. Edukasi ini sekaligus memperluas pemahaman bahwa mangrove tidak hanya memiliki fungsi penting bagi ekosistem pesisir, tetapi juga menyimpan potensi yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Munawwar Furqan selaku General Manager PLN UIP2B Jamali menyampaikan bahwa upaya menjaga keberlanjutan lingkungan perlu dilakukan secara konsisten dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari prosesnya.
“Pelestarian mangrove perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak berhenti pada upaya rehabilitasi, tetapi juga diikuti dengan pengenalan terhadap potensi yang ada di dalamnya. Melalui Gerakan RIMBA, kami ingin agar kepedulian terhadap mangrove tumbuh bersama dengan pemahaman masyarakat mengenai manfaat yang dapat dijaga dan dikembangkan secara bertanggung jawab,” ujar Munawwar.
Komang Teddy Indra Kusuma selaku Manager PLN UP2B Bali menyampaikan bahwa pengolahan hasil mangrove menjadi produk pangan menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mempertemukan kepedulian terhadap lingkungan dengan peningkatan kapasitas masyarakat.
“Ketika masyarakat dapat melihat langsung proses dari buah lindur hingga menjadi tepung dan produk pangan, nilai edukasinya menjadi lebih nyata. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ungkap Komang.
Ketua Yayasan Baruna Balarama Fantasi, I Nyoman Ridet Artikanaya, menyampaikan bahwa pengenalan terhadap hasil mangrove turut memperluas pemahaman masyarakat mengenai ekosistem pesisir.
“Mangrove bukan hanya tentang pohon yang kita tanam dan kita jaga. Ada kehidupan dan potensi yang tumbuh di dalam ekosistemnya, termasuk hasil yang dapat kita kenali dan pelajari pemanfaatannya. Buah lindur menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dapat melihat mangrove dari sisi yang lebih luas,” ungkap Ridet
Menurut Ridet, praktik pengolahan buah lindur diharapkan dapat menjadi pengalaman yang terus dikembangkan masyarakat setelah kegiatan berlangsung.
“Kami berharap apa yang dipelajari dalam kegiatan ini tidak berhenti sebagai pengetahuan. Masyarakat dapat membawa pulang keterampilan tersebut, mengembangkannya, dan semakin memahami bahwa menjaga mangrove juga berarti menjaga potensi yang ada di sekitarnya,” tutup Ridet.
Program Gerakan RIMBA telah berjalan sejak 2025. Pada tahap sebelumnya, program diwujudkan melalui penanaman 6.200 bibit mangrove dalam 400 kotak dengan luas area mencapai 663 meter persegi. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan edukasi dan peningkatan kompetensi masyarakat pada 2026.
Pelaksanaan Gerakan RIMBA turut melibatkan UPTD Tahura Ngurah Rai, BPDAS Unda Anyar, Forum Peduli Mangrove, Kelurahan Tanjung Benoa, masyarakat Tanjung Benoa, serta mahasiswa Bina Desa Tanjung Benoa. Keterlibatan berbagai pihak mendukung pendampingan, pembimbingan, dan partisipasi masyarakat dalam rangkaian program.
Melalui Gerakan RIMBA, PLN UP2B Bali bersama Yayasan Baruna Balarama Fantasi terus mendorong pemahaman masyarakat terhadap mangrove secara lebih menyeluruh, baik sebagai ekosistem yang perlu dijaga maupun sebagai sumber pembelajaran dan potensi yang dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Ke depan, keberlanjutan program diharapkan dapat terus memperkuat pengetahuan dan keterampilan masyarakat di bidang mangrove dan lingkungan, sehingga upaya rehabilitasi dapat berjalan seiring dengan tumbuhnya kapasitas dan kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan ekosistem mangrove.












