Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Bonus SEA Games 2025 Belum Cair, Atlet Jawa Barat Pertanyakan Komitmen Pemprov

Salah satu atlet triathlon Jawa Barat, Rashif Amilia Yaqin, mengatakan belum adanya kejelasan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait waktu maupun besaran bonus yang dijanjikan.(Istimewa)
banner 120x600

Bandung|| Radarpost.id

Sejumlah atlet dan pelatih asal Jawa Barat mengaku resah lantaran bonus atas prestasi mereka di ajang SEA Games Thailand 2025 hingga kini belum juga cair.

Kondisi ini menimbulkan kekecewaan, terutama karena beberapa provinsi lain disebut telah lebih dulu merealisasikan pencairan bonus bagi atlet berprestasi bahkan sebelum bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Salah satu atlet triathlon Jawa Barat, Rashif Amilia Yaqin, mengatakan belum adanya kejelasan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait waktu maupun besaran bonus yang dijanjikan.

“Pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian soal bonus. Kami berharap bisa segera direalisasikan,” ujar Rashif.

Rashif mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih tiga medali emas, satu perak, dan satu perunggu, yang turut menyumbang perolehan medali bagi kontingen Indonesia.

Secara keseluruhan, Indonesia finis di posisi kedua klasemen akhir dengan raihan 333 medali, terdiri dari 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu.

Hal senada disampaikan atlet triathlon lainnya, Zahra Bulan Aprilia Putri, yang juga belum menerima bonus meski berhasil menyumbangkan dua medali emas.

“Harapannya bonus bisa segera cair karena ini penting untuk menjaga motivasi atlet ke depan,” katanya.

Sementara itu, pelatih triathlon Wahyu Hidayat menuturkan bahwa berdasarkan mekanisme yang berlaku, bonus dari pemerintah daerah umumnya mengacu pada persentase tertentu dari bonus nasional.

“Informasinya sekitar 20 persen dari bonus nasional. Kami berharap hal itu bisa menjadi acuan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Harian KONI Jawa Barat, Arief Prayitno, menyatakan bahwa bonus merupakan hak atlet yang harus dipenuhi sesuai ketentuan.

Ia menegaskan bahwa Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) hanya berperan sebagai penghubung antara atlet dan pemerintah daerah.

“Kalau mendapat arahan, kami siap menyampaikan aspirasi atlet kepada gubernur maupun dinas terkait,” kata Arief.

Ia juga berharap tradisi pemberian bonus kepada atlet berprestasi tetap dijaga oleh pemerintah daerah sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam mengharumkan nama bangsa.

Menurutnya, wajar jika atlet mempertanyakan hak mereka, terlebih ketika daerah lain telah lebih dulu merealisasikan bonus tersebut.