Depok || Radarpost.id
Punya anak yang pintar mengaji dan penghafal Al-Qur’an menjadi harapan banyak orang tua. Mencintai dan menghayati Al-Qur’an, menjadi perjalanan yang tidak hanya mencerminkan konsistensi, tetapi juga dedikasi yang semakin matang.
Seperti halnya Rasya Naufal Maulana, remaja berusia 14 tahun menjadi hafizah dan meraih Juara Pertama MTQH Kategori Kategori Syahril Qur’an, di ajang Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) XXIV tingkat Kota Depok Tahun 2025.
Di tengah persaingan yang sangat ketat, Rasya Naufal Maulana, ke panggung MTQH dengan motivasi baru, semangat yang lebih besar, semua itu dia lakukan sebagai wujud pengabdian sekaligus usaha terbaik untuk mengharumkan nama Kecamatan Cipayung.
“Alhamdulillah, kami Tahun ini, berhasil meraih juara 1 di kategori Syahril Qur’an, bagi kami, perjalanannya sebagai kafilah MTQH bukan sekadar pencapaian karier, melainkan juga proses spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap pria kelahiran 2011 itu, saat bersama orang tuannya Imron Maulana, Kamis (13/11/2025).
Prestasi tersebut tentu tidak diraih dengan mudah. Di baliknya, ada perjuangan panjang dan tantangan yang harus dihadapi. Rasya Naufal Maulana mulai memantapkan diri menjadikan Al-Qur’an sebagai perisai dirinya.

Sejak SMP kelas 7 diusia 11 tahun masuk Pondok pesantren Nurul Furqon, Kecamatan Gunung Sindur Bogor, dirinya mewakili Kecamatan Cipayung, sebagai tempat tinggalnya mulai terbentuk bakatnya.
Berkat semangat yang tinggi. Motivasi membaca dan menghafal Al-Qur’an, terdorong untuk mulai menghafal dan mendapat dukungan penuh dari keluarga. Meski sempat merasa takut dan khawatir di tengah proses menghafal, namun dia berhasil melewatinya.
“Syarhil Qur’an adalah sebuah cabang lomba dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang bertujuan untuk menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an secara lisan,” kata orang tua Rasya Naufal Maulana, Imron Maulana.
“Dalam lomba ini, peserta menampilkan tiga unsur utama: membaca ayat Al-Qur’an (tilawah), menerjemahkannya secara puitis, dan menguraikan kandungannya dengan gaya pidato yang komunikatif dan retoris,” tabahnya.
Perjalanan Rasya, menuju MTQH tingkat Kota Depok cukup panjang. Dia harus melewati beberapa tahap seleksi, mulai dari tingkat sekolah hingga kecamatan. Di tingkat Kota, Rasya bersaing dengan sebelas Kecamatan peserta lainnya, sebelum akhirnya terpilih sebagai juara.
Meski rasa gugup tetap dia rasakan setiap kali akan tampil. Rasya menyadari kemampuan para kafilah dari wilayah lain tidak bisa diremehkan. Namun, santri Pesantren Nurul Furqon, itu mampu meredakan rasa gugup dengan membaca tawassul, hingga akhirnya berhasil meraih juara 1.
“Proses menjelaskan secara lisan isi dan pesan-pesan Al-Qur’an dengan menyampaikan pesan Al-Qur’an dan menjadi salah satu alternatif dakwah yang populer di kalangan generasi muda, agar dapat dipahami dan diamalkan oleh masyarakat, menjadi kebanggaan saya. Semoga suatu saat saya bisa ke jenjang tingkat provinsi dan Nasional untuk membawa nama Al-Qur’an serta nama Kota Depok,” tuturnya.
“Ini semua berkat semangat dan dukungan kedua orang tua kami, yang terus menerus memberikan suport untuk kami, terima kasih semuanya,” ungkap Rasya. (**).













