Jakarta|| Radarpost.id
Isu dampak industri fashion terhadap lingkungan kian menjadi sorotan global. Menjawab tantangan tersebut, kampanye Dressponsible Vol. 2 kembali digelar oleh mahasiswa sebagai upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya sustainable fashion.
Tahun ini, Dressponsible memperkuat langkah melalui kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta. Sinergi ini menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap gerakan perubahan perilaku konsumsi fashion yang lebih bertanggung jawab.
Kampanye ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin pendidikan berkualitas (SDG 4) dan aksi iklim (SDG 13), dengan menyoroti dampak fast fashion terhadap lingkungan.
Pelaksanaan Dressponsible Vol. 2 dilakukan melalui tiga tahap. Pada fase pre-event sejak 2 Maret 2026, tim mahasiswa memproduksi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) sebagai media utama kampanye.
Selanjutnya, aktivasi digital dilakukan sejak 17 Maret 2026 melalui kolaborasi dengan kanal resmi Ekraf guna memperluas jangkauan audiens.
Puncak acara digelar pada 18 April 2026 di Museum Bank Indonesia. Dalam kegiatan ini, ditampilkan pemutaran ILM serta trunk show dari tiga brand lokal, yakni Adrie Basuki, Limittes, dan Arjun yang mengusung konsep fashion berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, pesan kampanye akan diperluas melalui penayangan ILM di sejumlah titik videotron di Jakarta bekerja sama dengan Disparekraf.
Dosen pembimbing, Melvin Bonardo Simanjuntak, menjelaskan bahwa ILM menjadi sarana edukasi yang efektif dalam membangun kesadaran publik.
“Iklan Layanan Masyarakat merupakan bentuk komunikasi yang informatif, persuasif, dan edukatif. Harapannya, kampanye ini dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi produk fashion,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Direktur Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Romi Astuti, mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam mengangkat isu lingkungan melalui pendekatan kreatif.
“Generasi muda memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan menuju pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Kami siap mendukung agar gerakan ini semakin luas dampaknya,” kata Romi.
Kepala Museum Bank Indonesia, Rio Wardhanu, menambahkan bahwa museum berfungsi sebagai ruang kolaboratif untuk berbagai gagasan dan isu publik.
“Melalui kolaborasi ini, museum menjadi wadah dialog dan kreativitas, sekaligus katalisator isu-isu relevan seperti sustainable fashion,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa perkembangan industri fashion dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif ke arah keberlanjutan, mulai dari konsep thrifting, recycle, hingga rental fashion.
Namun, tantangan masih besar, terutama dalam mengubah pola konsumsi masyarakat yang cenderung berlebihan akibat maraknya produk fast fashion.
Pemerintah pun terus mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan. Di DKI Jakarta, sektor fashion menjadi salah satu penyumbang penting dalam subsektor ekonomi kreatif setelah kuliner, televisi, dan kriya.
Melalui Dressponsible Vol. 2, mahasiswa tidak hanya menghadirkan kampanye kreatif, tetapi juga membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri dapat menjadi kunci dalam mendorong perubahan menuju industri fashion yang lebih ramah lingkungan.
Kampanye ini diharapkan mampu menggerakkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai menerapkan gaya hidup yang lebih bijak dalam berbusana serta mendukung praktik fashion berkelanjutan di Indonesia.













