||TANGGERANG,BANTEN ||RADARPOST.ID|| — Eyang Ratih, sosok paranormal senior yang sudah dikenal luas di Tangerang dan sekitarnya, kembali menunjukkan kebersamaannya dengan kalangan media. Dalam sebuah momen silaturahmi yang penuh kehangatan, Eyang Ratih berbagi kisah suka dukanya bersama para wartawan yang telah mendampinginya sejak awal perjalanan spiritualnya. Dalam acara tersebut, ia juga memperkenalkan dua paranormal muda pendatang baru.Bunda nana,Larasati
“Anak-anak media itu mencintai Eyang, dan aku pun cinta mereka. Saya tidak akan bisa seperti sekarang tanpa dukungan media,” ujar Eyang Ratih penuh haru. Ia menambahkan bahwa hubungan yang terjalin antara dirinya dan para wartawan sudah seperti keluarga. Banyak dari mereka yang memanggilnya “Ibu” dan menjadikan Eyang sebagai tempat berbagi saat sedang galau atau butuh dukungan.
Dalam acara yang diadakan secara sederhana namun hangat itu, hadir pula beberapa nama seperti Larasati, Suryo, Bunda Nana, dan Joshua. Meski hanya dihadiri oleh segelintir orang, suasananya terasa akrab dan penuh tawa. “Kita tidak undang banyak paranormal, karena ini memang acara anak-anak media. Tapi semua yang datang adalah keluarga,” kata Eyang.
Eyang Ratih juga mengenang momen-momen kebersamaannya di masa lalu, termasuk rutinitas karaoke bersama setiap malam minggu bersama para sahabat seperti Indra. Ia menyebut bahwa pertemuan hari itu terasa seperti kejutan yang sangat membahagiakan.
Saat ditanya soal keberlanjutan eksistensinya di dunia paranormal, Eyang dengan rendah hati menjawab, “Kenapa Eyang masih eksis? Karena Eyang mencintai anak-anak media bukan karena uang, tapi karena hati.” Ia juga menyinggung fenomena maraknya media bodong dan pentingnya menjaga etika dalam dunia spiritual.
“Jangan kotori ‘priuk’ tempat makanmu sendiri. Jangan menipu orang hanya demi uang. Kalau penyakit itu medis, katakan medis. Jangan dipaksakan jadi nonmedis demi keuntungan pribadi,” tegas Eyang dengan nada bijak.
Silaturahmi ini sekaligus menjadi ajang temu kangen bagi banyak pihak yang telah lama tak bersua. Harapan pun dilayangkan agar momen-momen seperti ini bisa terus berlanjut, menjaga kekeluargaan antara para spiritualis dan insan media.
“Kejujuran itu penting. Kalau kamu tidak terima kebenaran sekarang, kamu akan menerima karmanya nanti,” tutup Eyang Ratih mengakhiri pesannya.













