Jakarta|| Radarpost.id
Film musikal dinilai tidak hanya menjadi hiburan bagi anak-anak, tetapi juga dapat menjadi media pendidikan untuk mengembangkan berbagai potensi, kecerdasan, kreativitas, serta karakter mereka.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Film Musikal bertajuk “Tantangan Film Musikal di Indonesia” yang digelar dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 – Pekan Diskusi Film Indonesia, Senin (24/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di PFN Heritage, Jakarta Timur, tersebut menghadirkan aktris sekaligus pendidik anak Yessy Gusman, produser eksekutif film Sahabat Anak Herty Purba, serta ventriloquist cilik Afsheena Zerina Sofialdin, yang membagikan pengalaman pertamanya bermain dalam film musikal Sahabat Anak. Diskusi dipandu Rani Oktavia, produser dan penulis TV.
Yessy Gusman menyoroti pentingnya melihat kemampuan anak secara lebih luas. Menurutnya, keberhasilan anak tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan nilai akademik atau peringkat di sekolah.
“Kita semua adalah makhluk yang istimewa. Tidak ada manusia yang diciptakan tanpa memiliki kemampuan atau kecerdasan tertentu. Jadi, anak tidak perlu merasa kurang hanya karena dia tidak mendapatkan ranking atau tidak unggul dalam pelajaran tertentu,” ujar Yessy.
Yessy mengaitkan hal tersebut dengan konsep multiple intelligences atau kecerdasan jamak yang dikembangkan Howard Gardner. Menurutnya, kecerdasan manusia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan matematika maupun akademik, tetapi juga mencakup kemampuan musikal, kinestetik, linguistik, interpersonal, intrapersonal, naturalis dan berbagai kemampuan lainnya.
Ia mencontohkan pengalaman ketika melihat seorang mahasiswa di Amerika Serikat yang secara akademis terlihat biasa saja, tetapi memperoleh beasiswa karena memiliki kemampuan luar biasa dalam olahraga basket.
“Dari situ saya semakin memahami bahwa kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan IQ, matematika atau kemampuan akademis. Ada anak yang memiliki kecerdasan kinestetik, ada yang musikal, ada yang linguistik, dan semuanya memiliki kelebihan masing-masing,” katanya.

Film, teater dan musik dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kecerdasan tersebut secara bersamaan.
“Ketika seorang anak menghafal skenario dan mampu menyampaikan dialog dengan bahasa yang baik, di situ ada kecerdasan linguistik. Ketika dia menyanyi atau memainkan musik, ada kecerdasan musikal. Ketika dia bergerak dan melakukan koreografi, ada kecerdasan kinestetik,” jelasnya.
Dalam proses latihan dan pertunjukan seni dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. Anak tidak hanya belajar mengenai teknik pertunjukan, tetapi juga belajar bekerja sama, disiplin, berani tampil dan mengekspresikan diri.
“Anak-anak bisa bermain sambil belajar, mengembangkan keberanian, sekaligus menemukan kemampuan yang mereka miliki,” ujar Yessy.
Herty Purba: Film Musikal Jadi Jembatan Anak dan Orang Tua
Film Sahabat Anak diproduksi dengan harapan dapat menghadirkan kembali kegembiraan anak Indonesia di layar lebar.
Menurutnya, anak-anak saat ini memiliki banyak pilihan hiburan, mulai dari YouTube, TikTok, gim, K-Pop hingga animasi. Namun, film yang secara khusus mengangkat dunia anak dan dapat dinikmati bersama keluarga masih perlu diperbanyak.
“Kami ingin menghadirkan film yang tidak menggurui anak. Anak-anak diajak tertawa, bernyanyi, bermain, berimajinasi, sekaligus belajar tentang persahabatan,” kata Herty.
Genre musikal dipilih sebagai medium untuk menyampaikan cerita dan nilai-nilai tersebut.
“Musik mampu menyampaikan emosi yang terkadang sulit diucapkan anak-anak. Anak-anak sangat dekat dengan lagu, ritme dan permainan. Jadi, musik bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai tanpa terasa seperti sedang mengajari,” ujarnya.
Dalam film musikal, lagu tidak boleh hanya menjadi selingan atau soundtrack. Musik harus menjadi bagian integral dari cerita.
“Cerita dan musik harus menjadi satu kesatuan. Setiap lagu harus memiliki fungsi dalam cerita, baik untuk memperkenalkan karakter, menyampaikan konflik, membangun emosi maupun menguatkan pesan,” jelasnya.
Film Sahabat Anak juga mengangkat nilai persahabatan, keberanian, kasih sayang dan hubungan antara anak dengan orang tua. Film tersebut diharapkan dapat menjadi tontonan yang bisa dinikmati dua generasi sekaligus.
“Film ini sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk anak-anak. Kami ingin orang tua juga menikmati filmnya. Tantangan terbesar kami adalah bagaimana membuat film yang disukai anak, tetapi pada saat yang sama membuat orang tua merasa senang ketika mengajak anak mereka menonton,” kata Herty.
Afsheena Zerina Sofialdin Ceritakan Pengalaman Pertama Bermain Film Musikal
Afsheena Zerina Sofialdin, ventriloquist cilik yang turut bermain dalam Sahabat Anak, membagikan pengalaman pertamanya terlibat dalam produksi film musikal.
Bermain dalam film musikal memberikan pengalaman berbeda dibandingkan penampilan ventriloquist yang selama ini dijalaninya. Ia harus belajar memahami karakter, mengikuti arahan, menghafalkan dialog, sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan adegan musikal.
Keterlibatan Afsheena juga menjadi gambaran bagaimana anak dapat mengembangkan kemampuan seni melalui pengalaman langsung di industri kreatif.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kemampuan anak dapat berkembang ketika mereka diberikan ruang untuk mencoba hal-hal baru. Bakat yang sebelumnya tumbuh melalui panggung pertunjukan dapat dikembangkan lebih jauh melalui dunia film.
Kehadiran Afsheena dalam diskusi tersebut juga menjadi bagian penting karena peserta, khususnya anak-anak dan pelajar, dapat melihat langsung pengalaman seorang anak yang berproses dari dunia pertunjukan hingga masuk ke produksi film.
Menurut Herty, memproduksi film musikal dengan anak sebagai pemeran utama memiliki tantangan tersendiri. Para pemain tidak hanya dituntut mampu berakting, tetapi juga harus memiliki kemampuan vokal, memahami emosi dan mengikuti koreografi.
“Anak sebagai pemeran utama harus mengembangkan kemampuan akting, vokal, emosi dan kedisiplinan, sekaligus tetap menjaga dunia anak agar terasa natural,” katanya.
Persiapan produksi pun membutuhkan proses panjang. Pemilihan pemain dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan dasar bernyanyi, akting dan koreografi.
Herty menyebut perubahan usia dan kondisi fisik anak menjadi salah satu tantangan yang harus diperhitungkan dalam produksi film.
Sejumlah lagu ditempatkan untuk membuka cerita, menggambarkan cita-cita, memperkuat konflik emosional, memperdalam hubungan antarkarakter hingga menyampaikan pesan utama pada bagian penutup.

Film tersebut juga menghadirkan kembali lagu-lagu anak karya Pak Kasur dengan izin penggunaan yang telah diperoleh pihak produksi.
“Kami sangat bersyukur bisa menghidupkan kembali lagu-lagu karya Pak Kasur. Lagu-lagu tersebut sederhana, tetapi pesan dan nilainya sangat kuat. Lagu itu mengajak anak bermain, berteman, bernyanyi, mengenal lingkungan, belajar berbagi dan memahami nilai-nilai kehidupan,” ujar Herty.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan utama Sahabat Anak, yakni menghadirkan tontonan yang menghibur sekaligus mempertemukan kembali pengalaman anak dan orang tua melalui musik.
“Kami ingin mengembalikan kegembiraan anak Indonesia ke layar lebar. Anak-anak perlu memiliki ruang untuk tertawa, bernyanyi, bermain dan berimajinasi. Melalui Sahabat Anak, kami berharap bisa mengajak lebih banyak orang menjadi sahabat bagi anak-anak Indonesia,” tuturnya.
Diskusi yang diselenggarakan PT Avatara Lintas Media tersebut menjadi bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 yang dirancang untuk memberikan wawasan dan pengalaman praktis kepada peserta mengenai proses kreatif, produksi dan perkembangan film musikal di Indonesia.












