Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Indonesia-Tunisia Garap Film Dokumenter untuk Perkuat Diplomasi Budaya

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (kanan), dengan Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Mohamed Trabelsi (kiri), beserta delegasi produksi film Tunisia di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.(Dok menbud)
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Pemerintah Indonesia dan Tunisia memperkuat hubungan bilateral melalui diplomasi budaya dengan menggagas produksi film dokumenter bersama yang mengangkat sejarah keterkaitan kedua negara. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan kerja sama perfilman, pertukaran sineas, hingga kolaborasi industri kreatif di masa mendatang.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dengan Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Mohamed Trabelsi, beserta delegasi produksi film Tunisia di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.

Salah satu agenda utama yang dibahas adalah produksi film dokumenter kolaborasi Indonesia-Tunisia yang mengisahkan perjalanan seorang pelukis asal Tunisia yang lahir dan memiliki keterikatan sejarah dengan Indonesia. Film tersebut digarap bersama Produksi Film Negara (PFN) dan TVRI, dengan mengangkat hubungan historis kedua negara yang dilandasi semangat Konferensi Asia-Afrika atau Bandung Spirit.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai film memiliki peran strategis sebagai instrumen diplomasi budaya. Menurutnya, karya sinema mampu menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan identitas bangsa sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.

“Budaya adalah jembatan untuk diplomasi dan merupakan bagian dari soft power. Karena itu, kami terus mengembangkan diplomasi budaya melalui berbagai platform pertemuan, konferensi, dan kegiatan internasional. Kami berharap melalui kebudayaan, hubungan people-to-people antara Indonesia dan Tunisia dapat semakin kuat,” kata Fadli.

Selain produksi film dokumenter, kedua pihak juga membahas peluang pengembangan proyek film bersama di masa depan. Kementerian Kebudayaan menyatakan memiliki sejumlah skema dukungan, seperti endowment fund dan matching fund, yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kolaborasi lintas negara.

Kerja sama tersebut juga dirancang mencakup kolaborasi musisi Indonesia dan Tunisia dalam penggarapan musik film, pertukaran sineas, hingga partisipasi dalam berbagai festival film internasional. Pemerintah Indonesia juga membuka peluang bagi sineas dan film Tunisia untuk tampil dalam berbagai ajang perfilman nasional, termasuk Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Mohamed Trabelsi, menyambut baik dukungan Pemerintah Indonesia terhadap proyek dokumenter tersebut. Ia menyebut produksi bersama ini menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan budaya kedua negara.

“Ini merupakan pertama kalinya ada produksi bersama yang bersifat historis antara Indonesia dan Tunisia. Kami berharap dokumenter ini dapat membuka lebih banyak perspektif dan pemahaman mengenai kedua negara, sekaligus memperkuat hubungan di antara masyarakat Indonesia dan Tunisia,” ujar Trabelsi.

Melalui kolaborasi ini, Indonesia dan Tunisia berharap masyarakat kedua negara semakin mengenal sejarah, kebudayaan, serta hubungan yang telah terjalin selama ini. Pemerintah juga optimistis kerja sama di sektor perfilman dapat berkembang menjadi kolaborasi kreatif yang berkelanjutan sekaligus memperkuat diplomasi budaya di tingkat internasional.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir Director of Production Representing Tunisian TV Moez Khadraoui, Scriptwriter and Journalist Sofienne Ben Farhat, Producer and Director of Etoiles Filantes Prod Habib Mestiri, serta Secretary of Foreign Affairs at Embassy of Tunisia Souleima Sessi.

Dari pihak Indonesia hadir Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Budaya Anindita Kusuma Listya, Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti, serta Direktur Diplomasi Raden Usman Effendi.