Jakarta|| Radarpost.id
Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan 40 buku digital Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti yang terintegrasi dengan platform Smart PAI berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari percepatan transformasi digital pendidikan agama di Indonesia.
Peluncuran yang dilakukan di Jakarta, Rabu (5/8), menghadirkan 39 buku teks utama PAI dan Budi Pekerti untuk jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK dan SLB, serta satu buku ajar PAI untuk perguruan tinggi umum. Seluruh buku dapat diakses secara daring melalui platform Smart PAI yang dikembangkan Kementerian Agama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan agama. Menurut dia, perubahan pola belajar generasi muda harus direspons dengan menghadirkan media pembelajaran yang lebih interaktif tanpa menghilangkan substansi nilai-nilai keagamaan.

“Kita harus lebih cepat mengikuti perkembangan teknologi. Anak-anak kita sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jangan sampai pendidikan agama tertinggal dari cara belajar mereka,” ujar Nasaruddin Umar.
Melalui Smart PAI, guru dan peserta didik dapat membaca buku digital, mengunduh materi, mengikuti kelas interaktif, mengakses perpustakaan digital, memanfaatkan bank soal, mengikuti asesmen pembelajaran, hingga menggunakan asisten AI untuk membantu proses belajar.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno menjelaskan, asisten AI dalam Smart PAI memiliki karakteristik berbeda dibandingkan layanan AI generatif pada umumnya. Seluruh jawaban yang diberikan AI hanya bersumber dari 40 buku resmi yang diterbitkan Kementerian Agama sehingga tetap berada dalam koridor kurikulum nasional dan materi yang telah melalui validasi akademik.
Menurut Amien, pendekatan tersebut dilakukan untuk menjaga akurasi materi pembelajaran sekaligus memastikan peserta didik memperoleh referensi yang sesuai dengan standar pendidikan agama Islam.
Selain menghadirkan pembelajaran berbasis digital, buku-buku tersebut juga mengintegrasikan Program Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi Al-Qur’an peserta didik. Program itu dimasukkan ke dalam materi Al-Qur’an dan Hadis setelah hasil asesmen menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Kementerian Agama juga memasukkan konsep Kurikulum Cinta dalam materi pembelajaran yang menanamkan lima nilai utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu pengetahuan, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air. Materi tersebut dipadukan dengan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk memperkuat pembentukan karakter peserta didik.

Amien menegaskan kehadiran teknologi AI bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan sebagai instrumen pendukung agar pendidik dapat lebih fokus membangun karakter dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik.
“Transfer pengetahuan bisa dibantu teknologi. Tetapi transfer nilai tidak akan pernah selesai dan tidak bisa digantikan oleh mesin,” katanya.
Adapun 40 buku yang diluncurkan terdiri atas enam buku PAI dan Budi Pekerti untuk siswa SD, enam buku untuk guru SD, tiga buku untuk siswa SMP, tiga buku untuk guru SMP, tiga buku untuk siswa SMA/SMK, tiga buku untuk guru SMA/SMK, 12 buku untuk guru SDLB, SMPLB, dan SMALB, tiga buku pendamping guru PAUD-TK, serta satu buku PAI untuk perguruan tinggi umum.
Melalui peluncuran buku digital dan platform Smart PAI, Kementerian Agama berharap pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap menjaga penguatan karakter dan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi pendidikan nasional.













