SINGKAWANG || Radarpost.id
SETARA Institute menyelenggarakan Konferensi Kota Toleran (KKT) pertama di Singkawang, Kalimantan Barat, pada tanggal 15-16 November 2025.
Urusan dari Kota Depok hadir yaitu Ka kesbangpol Linda, bersama kabid dan jajarannya, Ketua FPK bersama pengurus Kota Depok.
Acara yang gelar di Kota Singkawang ini dihadiri oleh utusan dari berbagai tokoh penting, termasuk Walikota Singkawang, serta perwakilan FKUB Kabupaten/Kota di Indonesia, dari Kementerian Agama RI, Kemendagri, dan sejumlah undangan lainnya.
Singkawang merupakan salah satu kota dengan skor toleransi tinggi di Indonesia, menempati peringkat kedua setelah Salatiga, Jawa Tengah, dengan skor 6,420 di tahun 2024.
Konferensi ini bertujuan untuk mempromosikan toleransi dan keberagaman Kabupaten / Kota di Indonesia, serta berbagi pengalaman dan strategi dalam mengelola keberagaman dan toleransi.

“Ini merupakan kesempatan baik untuk memperkuat komitmen dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kerukunan dan toleransi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera” kata Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Depok Jamhur, ditemui di Balaikota Depok, Sabtu (15/11/2025).
Menurutnya kegiatan tersebut dilaksanajan untuk menegaskan komitmen SETARA Institut melalui KKT pertama di Singkawang ini.
Jamhur yang saat di dampingi Kabid Kesbangpol dan pengurus Widopratikno, menyampaikan apresiasinya terhadap Kota Singkawang yang telah menjadi kota paling toleran nomor dua di Indonesia setelah Kota Salatiga berdasarkan hasil dari pengukuran Indek Kota Toleransi ( IKT ) tahun 2025.
Jamhur mengatakan, bahwa KKT bertujuan mendorong partisipasi lokal dalam mengimplementasikan toleransi dan keberagaman serta memperbaiki tata kelola kebhinekaan di daerah.
“Terkait isu-isu toleransi hendaknya menjadi tolok ukur baru di Indonesia, karena kita tahu bahwa agama adalah urusan pusat, tetapi banyak sekali prakarsa yang terkait soal-soal toleransi dan keberagaman bisa diambil oleh masing-masing daerah,” ujarnya.
Menurutnya untuk meningkatkan indek toleransi daerah-daerah pentingnya pendekatan bottom-up dalam mendorong toleransi, berbanding terbalik dengan pendekatan top-down yang selama ini dominan.
“Kota sebagai satuan administratif memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium praktik-praktik toleransi,” katanya.
KKT ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya moderasi beragama dan membangun kolaborasi lintas sektoral untuk mewujudkan ekosistem sosial yang beradab.
“Setiap Kabupaten/Kota bisa menjadi aktor utama dalam memperbaiki tata kelola kebhinekaan melalui kebijakan, regulasi sosial, serta tindakan langsung pemerintah dan masyarakatnya,” ujarnya.

Sementara Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan dalam suatu kesempatan menyampaikan, kunci dari terbentuknya toleransi adalah adanya ekosistem yang kuat terletak pada sinergi tiga jenis kepemimpinan, yakni kepemimpinan Politik (Political Leadership) yang ditunjukkan oleh kemauan politik dari kepala daerah dan jajaran Forkopimda.
Kepemimpinan birokrasi (Kepemimpinan Birokrasi) yang melibatkan kontribusi aktif dari OPD dalam menyusun dan menjalankan kebijakan inklusif, dan kepemimpinan kemasyarakatan (Societal Leadership) yang tumbuh dari inisiatif dan partisipasi masyarakat sipil.
“Kota Singkawang, yang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Konferensi Kota Toleran menunjukkan komitmennya dalam merawat kerukunan dan toleransi” kata Halili..
“Kegiatan ini bukan sekedar agenda seremonial, tetapi juga bagian dari ikhtiar merawat kerukunan dan toleransi dan juga sebagai sebuah gerakan intelektual mewujudkan Kabupaten/Kota yang aman dan kondusif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Kota Singkawang yang dikenal sebagai miniatur Indonesia menjadi laboratorium sosial yang baik untuk barometer Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, S.H., M.H., mengungkapkan rasa bangganya terhadap sikap toleransi dan keberagaman masyarakat di Kota Singkawang selama ini.
“Di Kalimantan Barat, Kota Singkawang adalah contoh kecil dalam wujud nyata Kota toleran di Indonesia. Di kota ini ada beragaman suku dan agama. Oleh karenanya Singkawang ini adalah miniaturnya Indonesia,” kata Tjhai Chui Mie.
Ia juga menceritakan bagaimana pemerintah kota selalu melibatkan semua unsur masyarakat dalam setiap kegiatan, termasuk dalam perayaan hari besar keagamaan seperti Imlek, Cap Go Meh, Ramadhan, Natal. dan sebagainya. (**).













