Jakarta|| Radarpost.id
Periode setelah Lebaran kerap menjadi momen penting bagi masyarakat untuk kembali menata pola hidup, baik dari sisi kesehatan maupun kondisi finansial.
Spesialis gizi klinik mengingatkan bahwa kondisi tubuh yang terasa sehat belum tentu mencerminkan indikator kesehatan yang optimal. Pemeriksaan kesehatan secara rutin dinilai penting sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi gangguan metabolik.
“Pemeriksaan berkala seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga indeks massa tubuh perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan secara menyeluruh,” ujar dr. Juwalita Surapsari dalam keterangan resmi.
Selama libur Lebaran, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak cenderung meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas, termasuk pada kelompok usia muda.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren peningkatan penyakit tidak menular pada usia 16–30 tahun, yang dipengaruhi pola konsumsi tidak sehat dan minimnya aktivitas fisik.
Karena itu, momen pascalebaran dinilai tepat untuk kembali menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga asupan makanan bergizi, meningkatkan aktivitas fisik, serta memastikan waktu istirahat yang cukup.
Di sisi lain, pembawa acara Donna Agnesia menekankan pentingnya konsistensi dalam berolahraga. Ia menilai kesibukan sehari-hari tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kesehatan.
Sementara itu, dari aspek finansial, perencana keuangan Yan Ardhianto Handoyo menyampaikan bahwa ketahanan keuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan juga kemampuan dalam mengelola arus kas secara disiplin.
Menurut dia, periode setelah Lebaran sering kali diwarnai tekanan keuangan akibat meningkatnya pengeluaran selama masa libur, seperti kebutuhan mudik, konsumsi, hingga pemberian hadiah.
Untuk itu, masyarakat disarankan melakukan evaluasi terhadap kondisi keuangan, termasuk menyusun kembali anggaran, mengendalikan utang, serta menyiapkan dana darurat.
“Alokasi keuangan ideal mencakup 50–60 persen untuk kebutuhan rutin, 10–20 persen untuk tabungan dan dana darurat, serta dilengkapi dengan proteksi,” kata Yan.
Ia menambahkan, langkah sederhana seperti disiplin mengatur pengeluaran dan menghindari utang konsumtif dapat membantu menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang.
Senada dengan itu, Chief of Human Resources & Corporate Services Sequis Life Agustina Samara menyatakan bahwa kesehatan dan finansial perlu berjalan beriringan. Pola hidup sehat, menurut dia, perlu didukung dengan perlindungan finansial yang memadai.
Dengan menata kembali pola hidup dan keuangan setelah Lebaran, masyarakat diharapkan dapat menjaga keseimbangan serta meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.













