Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Lewat “Hanya Gairah”, Spirit Band 86 Usung Konsep Produk Lama Rasa Baru

Grup musik jazz fusion pop, Spirit Band 86, resmi menandai kebangkitannya di industri musik Tanah Air dengan merilis ulang lagu-lagu lama dalam kemasan aransemen baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.( Rr)
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Grup musik jazz fusion pop, Spirit Band 86, resmi menandai kebangkitannya di industri musik Tanah Air dengan merilis ulang lagu-lagu lama dalam kemasan aransemen baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Comeback yang dimulai sejak 2025 ini juga menjadi momentum band lintas generasi tersebut untuk menjangkau pendengar muda, khususnya Generasi Z.

Band yang berdiri sejak 1986 oleh Eramono Soekaryo ini sebelumnya dikenal sebagai bagian dari geliat musik jazz Indonesia pada era 1980–1990-an. Setelah merilis sejumlah karya seperti album Mentari (1992) dan lagu-lagu populer hingga 1994, Spirit Band 86 sempat vakum sejak 1996 sebelum akhirnya kembali aktif hampir tiga dekade kemudian.

“Kami membawa konsep ‘produk lama rasa baru’. Lagu-lagu lama kami aransemen ulang dengan pendekatan musikal yang lebih kekinian, tanpa meninggalkan identitas jazz fusion yang menjadi ciri khas,” ujar Eramono dalam keterangannya di Jakarta.

Dalam formasi terbaru, Spirit Band 86 kini diperkuat oleh Adrian Eramono (gitar), Jay Danu Prasetyo (keyboard dan synthesizer), Lili Amelia (vokal), serta Eramono Soekaryo (keyboard). Formasi ini disebut sebagai kombinasi lintas generasi yang menggabungkan pengalaman dan energi baru.

Single terbaru yang tengah disiapkan berjudul “Hanya Gairah”, yang diambil dari album Mentari. Lagu ini sebelumnya cukup dikenal pada masanya, namun kini dihadirkan kembali dengan warna musik yang lebih segar.

“Secara musikal ada perubahan signifikan, terutama pada tempo dan pendekatan ritmis. Kalau dulu nuansanya lebih ‘shuffle’ klasik, sekarang dibuat lebih cepat dan modern, terinspirasi dari gaya musik internasional,” jelas Eramono.

Lagu “Hanya Gairah” sendiri bercerita tentang dinamika hubungan dua sahabat yang berkembang menjadi perasaan cinta. Kisah tersebut terinspirasi dari pengalaman personal dan lingkungan pergaulan musisi pada masa itu.

Selain merilis ulang lagu lama, Spirit Band 86 juga tengah menyiapkan karya-karya baru. Namun, mereka mengakui masih memiliki “pekerjaan rumah” untuk mengaransemen ulang katalog lama sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas sekaligus mengoptimalkan distribusi digital.

“Kami ingin memastikan karya-karya lama kami hadir kembali dengan kualitas yang sesuai standar saat ini, sekaligus lebih optimal secara distribusi dan royalti di platform digital,” katanya.

Dari sisi strategi, band ini juga активно menyasar Generasi Z yang dinilai memiliki ketertarikan terhadap musik lawas yang dikemas ulang. Fenomena ini, menurut mereka, menjadi peluang untuk memperkenalkan kembali Spirit Band 86 ke pasar yang lebih luas.

“Kami melihat anak muda sekarang justru banyak yang menikmati musik era lama. Itu menjadi peluang bagi kami untuk hadir kembali dengan pendekatan yang lebih relevan,” ujar Eramono.

Ke depan, Spirit Band 86 berencana aktif tampil di berbagai panggung, termasuk festival jazz nasional dan tur kafe ke kafe. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat eksistensi di industri musik modern.

“Kami pada dasarnya adalah pemain. Jadi tampil di panggung tetap menjadi prioritas utama, selain terus berkarya di studio,” katanya.

Dengan semangat baru dan formasi lintas generasi, Spirit Band 86 berharap dapat kembali diterima oleh pasar musik Indonesia, baik oleh pendengar lama maupun generasi baru.

“Kami ingin membuktikan bahwa musik tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu waktu yang tepat untuk didengar kembali,” ujar Eramono.