Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Menjaga Nafas Demokrasi di Tengah Riuhnya Kepentingan, Romo Kefas Soroti Tantangan Ruang Publik

banner 120x600

Bogor|| Radarpost.id

Dinamika demokrasi di Indonesia dinilai tengah menghadapi tantangan serius di tengah derasnya arus informasi dan menguatnya kepentingan politik yang saling bertabrakan di ruang publik.

Dalam tulisan reflektifnya, tokoh masyarakat sekaligus rohaniawan, Kefas Hervin Devananda atau yang dikenal sebagai Romo Kefas, menyoroti perubahan cara pandang masyarakat terhadap demokrasi yang kini kerap dipenuhi kegaduhan narasi dibandingkan pertukaran gagasan yang sehat.

“Demokrasi tidak lagi hadir sebagai ruang jernih tempat gagasan diuji, melainkan kerap terasa seperti panggung riuh yang dipenuhi kepentingan dan persepsi,” kata Romo Kefas dalam keterangannya di Bogor, Jumat.

Menurut dia, derasnya arus informasi telah membuat batas antara fakta dan opini semakin kabur. Dalam kondisi tersebut, opini yang disampaikan dengan keras kerap lebih dipercaya dibandingkan fakta yang terverifikasi.

Ia menegaskan bahwa demokrasi sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai sistem politik, tetapi juga mencerminkan kedewasaan kolektif bangsa yang bertumpu pada kejujuran, kepercayaan, serta penghormatan terhadap perbedaan.

Romo Kefas mengingatkan bahwa ketika ruang publik dipenuhi kecurigaan dan kritik dibalas dengan delegitimasi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kekuasaan, melainkan nilai dasar demokrasi itu sendiri.

Lebih lanjut, ia menilai praktik demokrasi saat ini cenderung bergeser dari substansi gagasan menjadi pertarungan persepsi. Hal ini berpotensi menempatkan masyarakat hanya sebagai penonton, bukan sebagai subjek aktif dalam proses pengambilan kebijakan.

“Inti demokrasi bukan hanya pada pemilu lima tahunan, tetapi pada keberlangsungan dialog yang sehat, terbuka, dan berimbang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesetaraan dalam demokrasi, di mana setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat tanpa diskriminasi latar belakang sosial, ekonomi, maupun politik.

Menurutnya, demokrasi akan kehilangan makna ketika kritik dianggap sebagai ancaman dan perbedaan dipersepsikan sebagai permusuhan. Dalam kondisi tersebut, ruang kebebasan berpendapat berisiko menyempit.

Selain itu, Romo Kefas menyoroti peran toleransi dan solidaritas kebangsaan sebagai fondasi penting dalam menjaga keutuhan demokrasi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Ia menilai kehadiran media sosial turut memperumit kondisi dengan mempercepat penyebaran informasi sekaligus meningkatkan potensi disinformasi. Fenomena “echo chamber” disebutnya membuat masyarakat cenderung hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya.

Di sisi lain, ia juga menyinggung tantangan yang dihadapi pers sebagai pilar keempat demokrasi. Independensi media dinilai rentan terpengaruh kepentingan ekonomi dan politik, yang berpotensi melemahkan fungsi kontrol sosial.

Meski demikian, Romo Kefas menilai demokrasi Indonesia masih memiliki peluang untuk diperkuat. Ia melihat adanya peningkatan kesadaran publik terhadap pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi, terutama di kalangan generasi muda.

Ia menekankan perlunya komitmen bersama antara pemerintah, media, dan masyarakat untuk menjaga etika dalam berpolitik serta memperkuat nilai kesetaraan, toleransi, dan solidaritas kebangsaan.

“Demokrasi tidak bisa berdiri hanya di atas aturan, tetapi juga membutuhkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan,” katanya.

Romo Kefas menambahkan bahwa masa depan demokrasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh elite politik, tetapi juga oleh peran aktif masyarakat dalam menjaga rasionalitas dan akal sehat di tengah berbagai kepentingan.

Menurut dia, demokrasi yang kuat bukanlah yang bebas dari konflik, melainkan yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.