Depok || Radarpost.id
Naik gunung kini juga menjadi salah satu cara healing yang tak kalah populer. Meski lelah mendaki hingga ribuan kaki melangkah, dengan peluh keringat akan terbayar ketika melihat indahnya pemandangan di atas sana.
“Iya kita bisa menghirup udara segar sekaligus menikmati pemandangan indah, belum lagi lautan awan yang bisa terlihat jelas di depan mata, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?,” kata Opan Irwanto, saat ditemui di acara Depok 1st Outdoor Festival 2026, Jumat (9/01/2026), di DOS Balaikota Depok.
Selain itu, Opan panggilan akrab Opan Irwanto, juga mengaku gelisah, mendaki bukan untuk mencari nama, apalagi bantuan dari pihak mana pun. Mereka hanya ingin satu hal melihat pendaki lain tersenyum bahagia.
“Awalnya pada 13 Desember 2025 lalu, kami bersama para relawan telah melaksanakan aksi bersih-bersih di jalur pendakian Cibodas menuju Curug Cibeureum, Gunung Gede. Hasilnya cukup mengejutkan, tim berhasil mengangkut total 94 kg sampah dari kawasan konservasi tersebut,” ujar Opan.

Di tengah ramainya aktivitas pendakian, komunitas Pecinta Alam Margonda 54 (PAM 54) Korpri Kota Depok, hadir sebagai sosok pendamping yang tidak hanya membantu para pendaki, tetapi juga menjaga kelestarian alam tanpa pamrih.
Selain menjadi teman perjalanan, mereka juga aktif mengingatkan sesama pendaki untuk membawa turun kembali sampah yang dibawa ke atas. Prinsip mereka sederhana namun kuat, apa yang dibawa naik, harus dibawa turun.
“Kalau kita mau alam tetap indah, ya kita harus jaga bareng-bareng. Jangan cuma datang untuk foto-foto, tapi tinggalkan sampah. Itu menyakitkan,” kata Opan.
PAM 54 ini juga percaya bahwa keindahan alam yang terjaga bisa membuat pengalaman mendaki jauh lebih berkesan.
“Gunung yang bersih itu bikin damai. Kami senang kalau lihat pendaki lain bahagia, bisa menikmati alam tanpa gangguan. Itu sudah cukup buat kami,” ucapnya.
Tentunya untuk dapat menghirup udara segar plus menikmati indahnya alam pengunungan, namun kebersihan menjadi salah satu faktor terpenting.
Opan Irwanto, pendiri Alam Margonda 54 (PAM 54) Korpri Kota Depok, mengungkapkan bahwa konsep edukasi yang dibawa tidak hanya bersifat teori, tetapi didasari oleh aksi nyata yang telah dibuktikan di lapangan.
“Disinilah muncul gagasan dari teman-teman bikin acara, iya tentunya kita harus sosialisasikan lingkungan bersih, tidak tercemar limbah atau sampah sampah dari berbagai pencemaran lingkungan,” tambahnya.
Ia juga memandang bahwa mendaki gunung saat ini juga telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup semua kalangan baik kelas menengah urban yang modern.

“Waktu itu kami bersama teman-teman menelusuri jalan sempit dengan nyaman, tanpa ada satu pun sampah yang tertinggal. Saya memastikan tidak ada sekecil pun sampah yang ditinggalkan di atas gunung,” ungkapnya.
“Yang unik dan cukup jadi tantangan adalah, ketika pendaki membawa kemasan makanan atau minuman sachet, sobekan plastiknya bahkan akan dicek di basecamp ketika sudah turun,” papar Opan.
Opan menambahkan, Kondisi itu juga mendorong gunung bukan panggung. Melainkan ruang kontemplasi yang mengajarkan kerendahan hati.
Ia berharap, di tengah maraknya tren pendakian digital, makna sejati mendaki tak benar-benar hilang, yakni sebagai perjalanan sunyi menuju diri sendiri, bukan sekadar puncak demi pengakuan dengan hati yang bersih. (**).













