Gresik || Radarpost.id
Para petani di Desa Banyuurip, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi setelah kios resmi yang sebelumnya ditunjuk distributor ditutup. Kondisi ini membuat petani harus mencari pupuk hingga ke desa lain dengan biaya tambahan dan ketersediaan yang belum tentu terjamin.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Banyuurip, Sutrisno, mengungkapkan bahwa penutupan kios milik Mujiono berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian warga. Hingga saat ini, distributor pupuk subsidi di Gresik, AGR, belum menunjuk pengganti kios resmi di desa tersebut.
“Sekarang para petani kalau membeli pupuk harus ke Desa Menanggal, dengan biaya yang berbeda, dan di sana ketersediaannya juga terbatas karena diprioritaskan untuk desa setempat,” ujar Sutrisno, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini menyulitkan petani, terutama saat memasuki masa tanam yang membutuhkan pasokan pupuk secara cepat dan stabil. Tanpa kios resmi di desa, petani harus mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi sekaligus menghadapi risiko kekurangan pupuk.
Sutrisno menegaskan, saat ini Desa Banyuurip tidak memiliki satu pun kios pupuk subsidi. Karena itu, pihak Gapoktan berharap adanya solusi cepat dari distributor agar distribusi pupuk kembali normal.
“Di Desa Banyuurip saat ini belum ada kios pupuk sama sekali. Kami berharap distributor bisa memberikan izin kepada Gapoktan untuk membentuk kios baru, agar petani lebih mudah mendapatkan pupuk,” tegasnya.
Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk mengatasi persoalan ini, mengingat pupuk subsidi merupakan kebutuhan vital dalam menjaga produktivitas pertanian di wilayah tersebut.













