Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Portina Depok Gelar Lomba Hadangan dan Dagongan Ramaikan Formakot Depok 2025

banner 120x600

Depok || Radarpost.id

Perkumpulan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) Kota Depok menghelat kompetisi hadang dan Dagongan diikuti 150 peserta dari SD dan SMP se-Kota Depok.

Acara itu diadakan dalam rangka mengikuti Festival Olahraga Masyarakat Kota (FORMAKOT) Depok yang digelar oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Depok.

Formakot Kota Depok, berlangsung di Depok Open Space (DOS) jalan Margonda Raya, kantoran Balaikota Depok, Minggu (16/11/2025) resmi dimulai.

Ketua Umum PORTINA Kota Depok H. Irfan Januar mengatakan bahwa PORTINA akan menggali potensi anak-anak dalam kelincahan dan strategi dikhususkan untuk mengenalkan olahraga tradisional pada generasi muda.

“Fortina Kota Depok baru terbentuk, langsung menggelar Turnamen antar kelompok SD dan SMP tingkat Kota Depok. Mari kita sukseskan FORMAKOT Depok 2025,” ucap H. Irfan, kepada radarpost.id usai acara pembukaan Formakot.

Ketua Fortina Kota Depok H. Irfan saat memberikan sambutan hangat kepada anak-anak SD dan SMP, dalam pembukaan Formakot Depok.

Diharapkan muncul bibit-bibit Atlit Tradisional yang akan membawa nama harum Depok dimasa depan.

Modernisasi itu dilakukan di beberapa aspek. Di antaranya, penyesuaian sejumlah aturan dan standardisasi kostum pemain. Hal tersebut dimaksudkan supaya hadang tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Sebanyak 150 pelajar sekolah dasar (SD) putra dan putri dan SMP putra dan putri dari bebagai sekolah se-Kota Depok mengikuti kejuaraan ini.

“Digelarnya kejuaraan ini untuk menggali potensi anak-anak dalam kelincahan dan strategi,” ujarnya.

H. Irfan menuturkan olahraga hadang dan dagongan ini merupakan olahraga tradisional sebagai warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.

“Supaya semuanya semakin tahu dan bisa semakin berkembang. Anak-anak tidak hanya bermain gadget dan bisa berinteraksi dengan teman sebayanya di fortina,” terang Irfan.

“Para pemenang juga akan mendapatkan uang pembinaan berupa piala dan sertifikat yang dapat digunakan untuk mengikuti PPDB jalur prestasi,” tandasnya.

Pertandingan dagongan oleh anak-anak SD dan SMP tingkat Fortina Kota Depok.

Wakil Ketua Fortina Arif Qadarman, mengatakan memang, pelestarian olahraga tradisional tak semudah membalikkan telapak tangan. Arif atau biasa disapa bang Arif mengungkapkan, kondisi terbilang fluktuatif meski Pemerintah cukup memberikan dukungan.

Hadang atau lebih dikenal gobak sodor berusaha adaptif dengan kondisi terkini. Portina berupaya melestarikan permainan tradisional. Misalnya, aturan dan kostum yang semakin adaptif dengan perkembangan zaman.

’’Kompetensi ajang pencarian bibit atlet dan berpartisipasi dengan menyelenggarakan lomba berbagai lomba olahraga tradisional untuk siswa SD dan SMP yakni,” ungkap Arif.

Misalnya, kerja sama, strategi, serta fleksibilitas. ’’Ini merupakan salah satu upaya agar warisan leluhur bangsa tak diklaim negara lain,’’ tutur dia.

Sementara itu Ketua KORMI yang hadir diwakili oleh Bendahara KORMI Kota Depok Hj. Nurlela menambahkan, perlahan permainan dan olahraga tradisional tergerus zaman. Terutama bagi generasi muda. Sekadar bermain pun, mereka tak mengetahui cara atau aturannya.

Berbagai pihak pun berupaya melestarikan warisan bangsa itu. Salah satunya, Perkumpulan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina).

Ya, mereka berusaha menjadi jawara pada Kompetisi itu diadakan agar olahraga tradisional tersebut tetap dikenal. Kompetisi itu juga merupakan rencana awal modernisasi permainan hadang.

’’Kalau nggak ada kejuaraan, lemah lagi. Sayang, kalau tidak diselamatkan, jangan sampai anak-anak tidak mengenal budaya mereka sendiri,’’ ucap Nurlela.

Ke depan, permainan hadang akan dibawa menuju tingkat Jawa Barat dan Nasional. Mengapa bukan permainan lain yang dipilih sebagai ikon? Karena hadang melibatkan berbagai kemampuan pemain.

Salah seorang peserta. Misalnya, yang terlihat di lapangan para anak-Aanak SD dan SMP ada Pekikan instruksi hingga yel-yel terdengar dari murid berbeda sekolah.

Begitu lawan mencoba menerobos, dengan sigap tim lain menghalau. Asalkan, tim penjaga tak bergerak dil uar garis yang telah ditentukan. ’’Woi tahan, jangan sampe lepas,’’ teriak seorang peserta sembari membentangkan tangannya. (**).