Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Shindy Samuel Angkat Isu Kesehatan dan Gaya Hidup Lewat “Second Beginning”, Soroti Pentingnya Rawat Tubuh Pasca Turun Berat Badan

Perjalanan transformasi tubuh Seorang  Shindy Samuel dari 178 kilogram menjadi 67 kilogram tidak hanya menjadi kisah perubahan fisik.(Rr)
banner 120x600

Jakarta|| Radarpost.id

Perjalanan transformasi tubuh Seorang  Shindy Samuel dari 178 kilogram menjadi 67 kilogram tidak hanya menjadi kisah perubahan fisik, tetapi juga membuka diskursus lebih luas tentang kesehatan dan gaya hidup di tengah masyarakat.

Dalam momen bertajuk “Second Beginning” yang di selenggarakan di Skizzle clinic, Kemang, (9/4), Shindy mengungkap bahwa penurunan berat badan drastis yang ia jalani membawa tantangan baru, khususnya terkait kondisi tubuh pasca diet dan tindakan medis. Ia menekankan bahwa apa yang tampak ideal dari luar tidak selalu menggambarkan kondisi kesehatan secara menyeluruh.

“Perubahan besar ini bukan hanya soal angka di timbangan, tapi bagaimana tubuh beradaptasi setelahnya,” ujarnya.

Shindy menjelaskan, setelah berhasil menurunkan lebih dari 100 kilogram, ia menghadapi persoalan kelebihan kulit di sejumlah area tubuh. Kondisi tersebut, menurutnya, umum terjadi pada individu yang mengalami penurunan berat badan signifikan dalam waktu relatif singkat.

Fenomena ini, dalam dunia kesehatan, kerap dikaitkan dengan berkurangnya elastisitas kulit akibat peregangan dalam jangka panjang. Faktor usia, genetik, serta metode penurunan berat badan turut memengaruhi kemampuan kulit untuk kembali mengencang secara alami.

Karena itu, Shindy memilih menjalani prosedur body contouring secara bertahap, bukan sebagai solusi instan, melainkan bagian dari proses pemulihan fisik. Ia menekankan pentingnya pertimbangan medis, keamanan, serta waktu pemulihan dalam setiap tindakan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa intervensi medis bukan satu-satunya jalan. Menurutnya, fondasi utama tetap terletak pada pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta konsistensi dalam merawat tubuh.

“Kalau dari awal bisa dijaga dengan olahraga dan pola hidup sehat, tentu itu lebih baik,” katanya.

Lebih jauh, Shindy juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jangka panjang, bukan sekadar mengejar standar penampilan. Ia menilai masih banyak orang yang terjebak pada persepsi visual tanpa memahami proses di baliknya.

Dalam konteks gaya hidup modern, ia menyebut tantangan terbesar bukan hanya akses terhadap fasilitas kesehatan, tetapi juga komitmen untuk menjalani kebiasaan sehat secara berkelanjutan.

“Punya waktu dan fasilitas saja tidak cukup, yang sulit itu konsistensi,” ujarnya.

Selain aspek fisik, Shindy turut mengangkat isu kesehatan mental, terutama terkait rasa tidak percaya diri yang kerap dialami individu dengan perubahan tubuh ekstrem. Ia menilai penerimaan diri menjadi bagian penting dalam perjalanan kesehatan secara menyeluruh.

Konsep “second beginning” yang ia usung, lanjutnya, mencerminkan fase baru dalam hidupnya, di mana kesehatan, keseimbangan emosional, dan penghargaan terhadap diri menjadi prioritas utama.

Acara tersebut juga dihadiri sejumlah selebriti, di antaranya Barbie Kumalasari.

Melalui kisahnya, Shindy berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran bahwa menjaga kesehatan bukanlah proses instan, melainkan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan disiplin, pemahaman, serta dukungan yang tepat.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki kondisi tubuh yang berbeda, sehingga pendekatan terhadap kesehatan pun perlu disesuaikan, dengan mengedepankan prinsip aman, bertahap, dan berkelanjutan.