Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Tren Estetika Kini Tak Lagi Soal Wajah Berubah, Hasil Natural Jadi Pilihan

Salah satu teknologi yang hadir dengan pendekatan tersebut adalah PLLA-LASYNPRO™ dari perusahaan bioteknologi asal Swedia, Nordberg Medical, yang kini resmi hadir di Indonesia.(Rr)
banner 120x600

Jakarta || Radarpost.id

Tren perawatan estetika belakangan ini mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya banyak orang mengejar perubahan bentuk wajah yang terlihat jelas, kini hasil yang tampak natural dan peningkatan kualitas kulit justru semakin diminati.

Perubahan tren tersebut ikut mendorong berkembangnya pendekatan regeneratif dalam estetika medis, yang fokus pada proses biologi kulit untuk membantu menjaga kualitas, elastisitas, dan tampilan kulit agar terlihat lebih sehat tanpa memberikan dampak perubahan wajah yang berlebihan.

Salah satu teknologi yang hadir dengan pendekatan tersebut adalah PLLA-LASYNPRO™ dari perusahaan bioteknologi asal Swedia, Nordberg Medical, yang kini resmi hadir di Indonesia.

PLLA-LASYNPRO™ digunakan sebagai bio-aktivator kulit untuk peremajaan dan pengencangan. Pendekatan ini menempatkan proses regenerasi kulit sebagai bagian penting dari perawatan estetika.

Dokter kulit, kelamin, dan estetika sekaligus Pendiri Klinik BMDERMA, dr. Deasy Lius, Sp.DVE, mengatakan tren kecantikan yang berkembang melalui media sosial membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi mengenai berbagai prosedur estetika.

Namun, tidak semua informasi tersebut dapat dijadikan dasar untuk menentukan tindakan medis.

“Informasi dari influencer maupun brand Ambassador dapat menjadi bagian dari pengalaman pribadi, namun bukan pengganti pertimbangan medis,” ujar Deasy.

Menurutnya, pasien perlu memahami bahwa prosedur estetika tetap merupakan tindakan medis. Oleh karena itu, pemilihan perawatan idealnya mempertimbangkan bukti ilmiah, kompetensi dokter, serta kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Jangan Hanya Ikut Tren Kecantikan

Maraknya konten kecantikan di media sosial membuat berbagai prosedur estetika semakin mudah dikenal. Mulai dari perawatan untuk mengencangkan kulit, meningkatkan elastisitas, hingga berbagai tindakan untuk mengatasi tanda-tanda penuaan.

Di sisi lain, masyarakat perlu lebih kritis sebelum mengikuti tren tersebut.

Deasy mengingatkan agar pasien tidak hanya melihat hasil sebelum dan sesudah perawatan atau mengikuti pengalaman figur publik.

“Pemilihan perawatan medis tentunya bukan didasarkan oleh tren semata atau berdasarkan klaim pemasaran tanpa bukti jurnal,” katanya.

Ia menilai pasien perlu mengetahui siapa yang melakukan tindakan, produk apa yang digunakan, bagaimana prosedurnya, serta apakah terdapat bukti ilmiah yang mendukung penggunaannya.

Apa Itu Estetika Regeneratif?

Pendekatan regeneratif pada dasarnya berupaya mendukung proses biologis tubuh untuk memperbaiki kualitas jaringan. Dalam konteks estetika, perhatian tidak hanya diarahkan pada perubahan volume atau bentuk wajah, tetapi juga kondisi kulit.

Dokter Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, menjelaskan bahwa karakteristik material menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena tubuh memberikan respons biologis terhadap material yang masuk ke dalam jaringan.

“Bukti penelitian dengan produk tersebut sangat penting,” ujar Lanny.

PLLA-LASYNPRO™ sendiri dikembangkan dengan karakteristik partikel yang disebut berbentuk bulat dan tersebar merata. Nordberg Medical menyatakan teknologi tersebut dirancang dengan pendekatan biomaterial regeneratif.

Pendekatan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan teknologi regeneratif mulai mendapatkan perhatian di tengah meningkatnya permintaan terhadap perawatan dengan hasil yang tidak terlalu terlihat secara instan.

Pasien Kini Lebih Cari ‘Kelihatan Fresh’, Bukan Berubah Total

Dokter Elfin, M. Biomed (AAM), melihat adanya perubahan preferensi pasien dalam perawatan estetika.

Menurutnya, semakin banyak pasien menginginkan kulit yang lebih sehat, kuat, elastis, dan tampak lebih muda secara alami.

“PLLA-LASYNPRO™ semakin dikenal melalui pengalaman nyata para pasien yang menginginkan hasil natural dengan peningkatan kualitas kulit, bukan sekadar perubahan volume wajah,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan dr. Jeffri Setiawan, Dipl. AAAM. Ia melihat pendekatan regeneratif sejalan dengan tren quiet luxury dalam estetika.

Dalam tren tersebut, hasil perawatan justru tidak harus terlihat mencolok. Perubahan diharapkan muncul secara bertahap sehingga wajah tetap mempertahankan karakter aslinya.

“Sebagai bagian dari tren quiet luxury dalam estetika, hasil perawatannya berkembang secara bertahap melalui stimulasi fibroblas dan pembentukan matriks ekstraseluler,” kata Jeffri.

Tetap Harus Dilakukan Dokter

Meski tren perawatan estetika semakin mudah ditemukan di media sosial, masyarakat tetap perlu membedakan antara informasi kecantikan dan rekomendasi medis.

Dokter Deasy menegaskan estetika medis tetap berada dalam ranah medis sehingga tindakan perlu dilakukan oleh dokter yang memiliki kompetensi sesuai.

Pasien juga disarankan untuk melakukan konsultasi sebelum menentukan prosedur. Konsultasi menjadi penting untuk mengetahui apakah suatu perawatan memang sesuai dengan kondisi kulit dan kebutuhan pasien.

“Estetika medis tetaplah ranah medis yang membutuhkan penanganan dokter resmi dengan keilmuan sebagai bertanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Nordberg Medical menyebut PLLA-LASYNPRO™ telah memperoleh izin edar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan digunakan di lebih dari 35 negara.

Kehadiran teknologi tersebut di Indonesia turut menambah pilihan dalam perkembangan estetika regeneratif. Namun bagi masyarakat, tren apa pun yang sedang populer tetap perlu disikapi dengan bijak.

Sebab, dalam urusan perawatan estetika, hasil yang terlihat natural bukan hanya soal tren, tetapi juga bagaimana prosedur tersebut dipilih berdasarkan kondisi pasien, dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, dan memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.