Jakarta|| Radarpost.id
Fenomena jasa spiritual dan perdukunan di media sosial semakin ramai dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai layanan seperti pengasihan, pelet, buka aura, penerawangan hingga konsultasi spiritual kini mudah ditemukan di platform digital dengan beragam promosi yang menarik perhatian publik.
Di tengah maraknya tren tersebut, praktisi supranatural MS Alfa mengingatkan masyarakat agar lebih kritis sebelum mempercayai klaim-klaim yang ditawarkan akun spiritual di media sosial. Menurutnya, tidak sedikit oknum memanfaatkan kondisi emosional seseorang untuk mencari keuntungan pribadi.
“Sekarang banyak orang bermain di dunia spiritual karena tahu masyarakat sedang mencari jawaban atas masalah hidupnya. Dari situ oknum memanfaatkan keadaan,” ujar MS Alfa.
Ia menilai salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah penggunaan klaim akurasi berlebihan dalam promosi jasa spiritual. Beberapa akun, kata dia, kerap menyebut hasil pembacaan mereka mencapai tingkat akurasi tinggi hingga hampir sempurna.
“Kalau ada yang terlalu sering menekankan kata akurat, resonate, sampai pakai persentase hampir sempurna, masyarakat perlu hati-hati. Dalam hal spiritual tidak ada yang benar-benar mutlak,” katanya.
Menurut MS Alfa, sebagian pelaku menggunakan pola komunikasi yang bersifat umum agar terdengar relevan bagi banyak orang. Cara tersebut dinilai dapat membuat calon korban merasa sedang dibaca secara detail, padahal informasi yang disampaikan masih sangat luas dan bisa berlaku bagi siapa saja.
Selain itu, ia juga menyoroti banyaknya akun jasa spiritual yang tidak menampilkan identitas asli maupun wajah pemilik akun. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan masyarakat untuk mengetahui latar belakang pihak yang menawarkan jasa.
“Yang tampil muka saja masih ada yang bisa menipu, apalagi yang sama sekali tidak pernah memperlihatkan identitasnya. Kalau terjadi masalah, korban juga akan kesulitan mencari pertanggungjawaban,” ujarnya.
MS Alfa menyebut masyarakat sebaiknya berhati-hati terhadap akun anonim yang hanya mengandalkan testimoni tanpa identitas jelas. Transparansi, menurutnya, menjadi salah satu hal penting ketika seseorang menawarkan jasa yang berkaitan dengan persoalan pribadi dan emosional.
Ia juga mengingatkan agar publik tidak mudah terpikat dengan penggunaan gelar seperti “indigo”, “pakar spiritual”, “master”, atau “ahli supranatural”. Menurutnya, label tersebut saat ini mudah digunakan sebagai bagian dari pencitraan di media sosial.
“Sekarang semua orang bisa mengaku indigo atau ahli. Tapi masyarakat tetap harus melihat apakah omongannya masuk akal, konsisten, dan tidak menjual rasa takut,” katanya.
Salah satu modus yang disebut paling sering menarik perhatian masyarakat ialah jasa pelet atau pengasihan. Banyak akun menawarkan janji instan seperti membantu mendapatkan pasangan, mengembalikan mantan, hingga membuat target jatuh cinta dalam waktu singkat.
Namun menurut MS Alfa, masyarakat tetap perlu berpikir rasional sebelum mempercayai klaim semacam itu, terlebih jika mulai diarahkan untuk mengirim uang secara berulang dengan alasan ritual tambahan atau syarat tertentu.
“Kalau sudah ada unsur tekanan, janji berlebihan, dan terus meminta uang, masyarakat harus waspada. Gunakan logika dan jangan mudah dimanfaatkan oleh oknum yang mencari keuntungan dari masalah pribadi orang lain,” tuturnya.
Maraknya jasa spiritual di media sosial menjadi pengingat bahwa literasi digital dan sikap kritis tetap diperlukan dalam menyikapi berbagai penawaran di internet. Masyarakat diimbau tidak mudah tergiur solusi instan dan selalu mempertimbangkan aspek rasional sebelum mengambil keputusan.













