Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Yongkie Vincent, Antara Warisan Elfa Secioria dan Panggung Tanpa Sekat

banner 120x600

Jakarta || Radarpost.id

Di atas panggung, ia adalah sosok dengan senyum yang tak pernah luntur. Wajahnya santai, pembawaannya supel, namun ketika sepuluh jarinya mulai menyentuh tuts piano, suasana seketika berubah. Yongkie Natanael Vincent, atau yang lebih dikenal dengan Yongkie Vincent adalah anomali di tengah kaku-nya pakem musik formal. Baginya, musik bukan sekadar partitur, melainkan taman bermain yang penuh keajaiban.

“Music is fun,” ujarnya singkat. Kalimat itu bukan sekadar jargon, melainkan ruh yang ia tiupkan ke dalam setiap dentuman nada. Gaya bermainnya lugas dan gesit, menyerupai gerak aerodinamis yang membelah keheningan. Di tangannya, piano bukan lagi instrumen statis, melainkan medium ekspresi yang ia mainkan sebebas-bebasnya.

Lahir di Jakarta pada 19 Agustus 1993 dari pasangan Peter Sie dan Ariyes Aryani, Yongkie tumbuh di lingkungan yang awalnya jauh dari dunia tuts hitam-putih. Ayahnya memang bernama Peter Sie, namun ia bukan perancang busana legendaris yang tersohor. Titik balik hidup Yongkie dimulai saat sang ayah membelikannya sebuah upright acoustic piano di usia empat tahun.

Meski sempat bermain asal-asalan, Yongkie baru mendalami piano secara serius di usia sepuluh tahun. Perjalanannya menimba ilmu tergolong panjang, berpindah dari satu guru ke guru lain—mulai dari Ferdinand Marsa, Vera Soeng, Cendi Luntungan, Sri Hanuraga, hingga Tjut Nyak Deviana Daudsjah. Namun, ada satu nama yang menjadi kompas kreativitasnya yakni almarhum Elfa Secioria.

Yongkie mengaku tak pernah belajar langsung dari Bang E’el. Pertemuan mereka hanya terjadi sekali pada 2011 melalui perantara Vera Soeng. Dalam sebuah momen emosional, tangan Yongkie disatukan dengan tangan sang maestro, diiringi pesan agar ia meneruskan jejak sang legenda. Sejak itu, pengaruh Elfa bersama dengan Idang Rasjidi dan Bubi Chen merasuk ke dalam gaya permainannya yang “jenaka” namun berkelas.

Uniknya, kemahiran Yongkie tidak lahir dari disiplin latihan yang kaku bersama grupnya. Dalam formasi yang diperkuat oleh Sheila Permatasaka (bass), Giovanny Gerry (drum), Shaku Hachi (perkusi), Thomas Budi Handoyo (gitar), dan vokal merdu Olive Latuputty, kata “latihan” sering kali memiliki makna yang berbeda. “Apa itu latihan?” seloroh pemain bassnya sembari tertawa.

Jadwal latihan memang ada, namun lebih sering diisi dengan sesi mengobrol dan makan bersama. Bagi sang gitaris, Thomas, kunci bermain dengan Yongkie bukan pada repetisi lagu, melainkan pada nyali. Hal ini diamini oleh sang drummer yang telah mengiringi Yongkie sejak 2011. Mereka dituntut jeli mendengar ke mana piano Yongkie melompat, lalu menyatu di tengah jalan.

Bagi Yongkie, anggota bandnya sudah seperti keluarga. Ia menyebut Sheila dan Olive sebagai kakak perempuan yang kadang cerewet namun menyenangkan, Shaku sebagai abang, dan Thomas sebagai paman yang tenang namun lucu. “Aku tidak terpikir untuk ganti band. Cukup satu ini dan terus bersama,” tegasnya.

Dalam sebuah sesi showcase, Yongkie sempat melontarkan pertanyaan reflektif, apakah dirinya lebih condong sebagai seorang performer atau penulis lagu? Jawabannya mungkin terletak pada pengalaman para penyanyi yang pernah ia iringi. Banyak yang menyebut bermain dengan Yongkie adalah tantangan “ngeri-ngeri sedap”. Kejutan-kejutannya di atas panggung sering kali membuat penyanyi harus ekstra waspada namun tetap merasa terhibur.

Karakternya yang segar, renyah, dan terkadang disisipi elemen kejutan yang menyenangkan membuatnya sering disebut sebagai penerus estafet Idang Rasjidi. Namun, saat bermain solo dengan efektif, bayang-bayang kejeniusan Elfa Secioria seolah hadir kembali di panggung.

Kini, Yongkie Vincent and His-Playground telah menemukan “rumah” di tempat-tempat yang mengapresiasi kebebasan bermusik, seperti DSS milik Donny Hardono hingga Deheng House. Bagi Lexi Budiman, pemilik Deheng House, pintu selalu terbuka lebar bagi Yongkie untuk tampil kapan pun ia mau. Karena bagi seorang Yongkie Vincent, panggung adalah tempat di mana kegembiraan harus terus mengalir, tanpa batas dan tanpa sekat.