Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Janur Ireng Terpilih di FFH Januari 2026, Tandai Arah Baru Film Horor

Janur Ireng Terpilih di FFH Januari 2026, Tandai Arah Baru Film Horor
Janur Ireng Terpilih di FFH Januari 2026, Tandai Arah Baru Film Horor
banner 120x600

Jakarta || Radarpost.id

Ketakutan di layar lebar ternyata tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari kegelisahan, keberanian, dan tanggung jawab para pembuat film yang ingin karyanya lebih dari sekadar mengejutkan penonton. Nuansa itulah yang terasa kuat dalam Festival Film Horor (FFH) edisi Januari, yang kembali digelar sebagai ruang pertemuan ide, refleksi, dan harapan bagi masa depan film horor Indonesia.

Bagi para sineas, FFH bukan hanya soal penghargaan. Diskusi publik bertema “Trend Film Horor 2026” menjadi ajang berbagi kegelisahan sekaligus harapan. Mereka sepakat, horor yang baik adalah horor yang meninggalkan jejak—bukan hanya teriakan di dalam bioskop, tetapi juga renungan setelah lampu menyala.

“Penonton itu rela membayar untuk ditakut-takuti. Tapi ketakutan itu harus punya makna dan bisa diterima akal serta hati,” ujar aktris senior sekaligus psikolog Nini L. Karim, yang menyebut horor sebagai film mistik yang menuntut kejujuran emosi.

Direktur Film Kemendikbud, Syaifullah Agam, mengingatkan bahwa film horor pernah menjadi penopang utama industri film nasional. Namun baginya, angka penonton bukan segalanya jika kreativitas berhenti di tempat.

“Kalau horor terus berputar di pola yang sama, penonton akan pergi. Kita pernah mengalami masa suram sebelum 2004, dan itu bisa terulang,” katanya, dengan nada reflektif.

Di tengah diskusi tersebut, Janur Ireng muncul sebagai simbol harapan. Film ini terpilih sebagai Film Terbaik FFH Januari dan menyabet Nini Suny Award, sekaligus menegaskan bahwa horor Indonesia masih punya ruang untuk tumbuh dengan pendekatan cerita yang lebih kuat dan berkarakter.

Aktor Tora Sudiro dan sutradara Kimo Stamboel yang terlibat dalam Janur Ireng juga menerima penghargaan, menambah makna personal atas kerja panjang yang mereka jalani. Bagi para kreator, apresiasi ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas proses, risiko, dan keberanian untuk tidak mengambil jalan aman.

Sementara itu, Wavi Zihan (Qorin 2) dan Enggar Budiono (Dusun Mayit) turut merasakan momen yang sama—ketika kerja di balik layar akhirnya mendapat sorotan.

FFH juga memberikan penghargaan khusus kepada Epy Kusnandar atas dedikasinya di dunia perfilman Indonesia, mengingatkan bahwa industri ini dibangun oleh perjalanan panjang dan konsistensi, bukan popularitas sesaat.

Di tengah gemuruh tren dan angka penonton, FFH Januari menghadirkan satu pesan sederhana namun penting: film horor bukan hanya soal menakuti, tetapi tentang keberanian bercerita dan menghargai penonton. Dan dari ruang kecil diskusi inilah, harapan film horor Indonesia untuk 2026 kembali dinyalakan.