Depok || Radarpost.id
Gema takbir berkumandang sahut-menyahut, memecah keheningan pagi di kawasan komplek Walikota Depok, di Masjid Baitul Kamal Kota Depok.
Saat itu Walikota Depok Dr. H. Supian Suri menyampaikan bahwa pengorbanan adalah bentuk perjuangan setiap individu dalam meraih kebaikan.
“Pengorbanan adalah bentuk perjuangan. Apapun yang dilakukan untuk kebaikan adalah bentuk pengorbanan kita,” kata Walikota Depok Dr. H. Supian Suri, usai menjalankan Sholat Idul Adha di Masjid Baitul Kamal, Rabu, (27/5/2026).
Menurutnya, seluruh umat Islam patut mencontoh pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS, atas perintah Allah SWT demi kebaikan.
“Saya berharap kita, terutama orang tua, mampu meneladani sikap Nabi Ibrahim yang memberikan contoh baik kepada anaknya untuk menjalankan perintah Allah SWT,” ujar Walikota.
Lebih lanjut, Supian Suri menekankan seluruh jajaran Pemkot Depok harus berjuang agar Kota ini menjadi lebih baik dan maju ke depannya, sehingga pembangunan dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.
“Hal itu bisa dicapai dengan pengorbanan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat,” katanya, menambahkan.
Supian Suri menuturkan bahwa Idul Qurban bermakna kebersamaan, persatuan, dan kesatuan antarsesama.

“Dari semangat kurban, ada kepedulian sosial terhadap orang tidak mampu. Ada kebersamaan di antara kita, sehingga sikap saling bantu dan gotong royong sangat dibutuhkan untuk membangun Kota Depok ke depan,” katanya.
Sementara itu Istri Nabi Ibrahim AS sekaligus ibu dari Nabi Ismail AS sebagai perempuan shalihah, hebat, tangguh, teguh dan tulus dengan kemandirian yang sangat andal.
Karena perjuangannya yang begitu gigih penuh iman, maka Allah memberikan balasan yang luar biasa dengan menempatkannya pada tempat yang sangat mulia.
Selain itu lanjut Supian, juga menjadi ikon tokoh perempuan yang kiprahnya didokumentasikan dalam ritual ibadah agama Islam sepanjang zaman, yaitu Idul Qurban, melempar jumrah dan Sa’i dalam rukun haji yang dilakukan kaum muslimin di seluruh dunia.
Kesalehan dan kesabaran Siti Hajar ditunjukkan saat harus menerima kenyataan sebagai putri raja Maroko keturunan Nabi Shaleh yang menjadi tawanan dan budak karena orang tuanya terbunuh oleh Firaun, setelah mengikuti agama Ibrahim.
Ketaatan dan keridlaan seorang siti Hajar yang mutlak kepada Allah membuahkan ketegaran dan kemandirian yang luar biasa.
Hal ini terlihat setelah Nabi Ibrahim AS dikabulkan doanya oleh allah SWT untuk mendapatkan keturunan (QS al-Shaffat ayat 100), Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar bersama bayinya ke tempat yang jauh, tandus lagi sunyi tidak berpenghuni dan meninggalkannya.
Sebagai perempuan manusia biasa, Siti Hajarpun merana, akan tetapi begitu mendengar penjelasan Nabi Ibrahim AS bahwa hal demikian ini adalah perintah Allah, maka Siti Hajarpun menerima (taat) dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan diri dan bayinya.
Dari pantauan, pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Baitul Kamal bersama Walikota Depok dan Forkopimda serta sejumlah pejabat setempat dihadiri oleh ribuan jamaah yang terdiri atas pria, wanita, dan anak-anak. (**).













