BOGOR||Radarpost.id
TAPSSAM Indonesia (The Art of Public Speaking, Storytelling with Acting Method) resmi meluncurkan tiga modul utama Program Sunda Nyambung Ka Jaman 2026, yaitu Modul Induk, Modul Fasilitator, dan Modul Peserta. Ketiga modul tersebut merupakan hasil penelitian, dokumentasi budaya, dan pengembangan metode pembelajaran berbasis seni tutur Sunda yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir.
Peluncuran modul ini menjadi salah satu langkah strategis dalam upaya menghidupkan kembali seni tutur Sunda melalui pendekatan yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini, yaitu melalui storytelling, public speaking, dan teknik akting.
Penggagas Program Sunda Nyambung Ka Jaman 2026 sekaligus Kurator Pembelajaran TAPSSAM Indonesia, R. Rama Sastra Negara, S.Sn, mengatakan bahwa budaya perlu dihadirkan kembali dalam praktik kehidupan masyarakat melalui metode pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif.
«“Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi harus dihidupkan kembali dalam bahasa zaman. Karena itu, kami mengembangkan perangkat pembelajaran yang mampu menjembatani warisan budaya Sunda dengan kebutuhan komunikasi, kreativitas, dan pembangunan karakter generasi saat ini,” ujarnya.»
Menurut Rama, penyusunan modul diawali melalui proses observasi lapangan, dokumentasi audiovisual, studi literatur, serta wawancara mendalam dengan sejumlah tokoh budaya Sunda yang selama ini berperan aktif dalam pelestarian tradisi.
Beberapa tokoh yang terlibat dalam proses penelitian dan dokumentasi budaya tersebut di antaranya Ugan Sugandi, Sanusi, R. Atang Supriatna, A. Drajat Iskandar, Rakeyan Said Iskandar, H. Muhammad Abdul Latief (Kak Mal), serta Abah Olot Raja Aya dari Kasepuhan Kampung Adat Urug.
Hasil penelitian tersebut kemudian diolah menjadi perangkat pembelajaran yang terdiri atas tiga modul utama.
Modul Induk berisi filosofi, visi, kerangka pembelajaran, hasil penelitian budaya, serta arah pengembangan Program Sunda Nyambung Ka Jaman. Modul ini menjadi acuan utama pelaksanaan program.
Modul Fasilitator disusun sebagai panduan teknis bagi fasilitator, pelatih, moderator, dan pendamping pelatihan dalam mengelola proses pembelajaran berbasis pengalaman.
Sementara Modul Peserta menjadi bahan belajar utama yang memuat materi seni tutur Sunda, storytelling, public speaking, teknik akting, latihan praktik, studi kasus, refleksi pembelajaran, serta pengembangan karakter berbasis nilai-nilai budaya Sunda.
Ketiga modul tersebut disusun oleh tim pengembang yang terdiri dari R. Rama Sastra Negara, Nur Muhammadian, dan Erman Soelarman, serta didukung oleh tim peneliti Antara lain Faiz A Jaya, S.I.Kom ,Ikmal Husin, S. Sn dan Hendro Arrad Pulungan. Serta pendamping pelatihan yang terlibat dalam proses pengumpulan data, validasi materi, dan pengujian lapangan.
Program Sunda Nyambung Ka Jaman 2026 sendiri merupakan program pembelajaran budaya yang akan dilaksanakan pada 26–28 Juni 2026 di Auditorium RRI Bogor. Program ini mendapat dukungan Dana Indonesiana dan LPDP serta melibatkan berbagai komunitas budaya, seniman, akademisi, dan pegiat pendidikan.
Melalui peluncuran ketiga modul tersebut, TAPSSAM Indonesia berharap seni tutur Sunda dapat semakin berkembang sebagai media pendidikan karakter, komunikasi publik, dan penguatan identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Program ini mengusung semangat “Ngamumule Budaya • Ngawangun Karakter • Nyambung Ka Jaman” sebagai upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi masa depan.













