Depok || Radarpost.id
Sejumlah orang tua merasa bingung dan kecewa karena anak mereka tidak diterima di sekolah Negeri dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMP di Kota Depok meskipun secara geografis berada tidak jauh dengan sekolah tujuan.
Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok digeruduk orangtua yang terkendala validasi data saat mendaftar SPMB anaknya.
Ratusan orangtua memadati posko pengaduan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun ajaran 2026/2027. Kedatangan para orangtua calon siswa itu untuk mengadukan adanya kendala sistem validasi data pendaftaran melalui online.
Seperti yang dialami Saraswati, terpaksa harus mendatangi posko pengaduan SPMB Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, di gedung Dibaleka II, Balai Kota Depok. Saraswati bersama yang lainnya datang untuk memperjuangkan anaknya untuk mendaftar ke sekolah yang dituju melalui jalur prestasi.
“Saya datang untuk meminta bantuan verifikasi data, karena saat mendaftar online mengalami kendala,” ujar Saraswati, Senin, (15/6/2026).

“Ini karena ada kendala saat mendaftar online saat melakukan verifikasi data,” jelas Saraswati.
Septi mengungkapkan, data anaknya sudah lengkap 100 persen sesuai persyaratan pendaftaran, sejumlah persyaratan sudah dilampirkan secara online. Namun hingga tadi pagi, Septi melihat status kelengkapan anaknya berstatus belum terverifikasi.
“Karena statusnya belum terverifikasi, jadi saya belum bisa memilih SMP Negeri yang mau dituju di wilayah Cilodong,” ungkap Septi.
Septi harus berburu dengan waktu mengingat batas verifikasi pendaftaran jalur prestasi hanya sampai 5 Juni. Untuk itu, Septi berjuang untuk anaknya meminta bantuan verifikasi ke posko pengaduan SPMB.
“Makanya saya coba datang ke sini, karena ini hari terakhir pendaftaran untuk sekolah yang dituju,” terang Septi.
Hal yang sama turut dilakukan Rosid warga Sawangan, untuk mengadukan nasib anaknya yang belum dapat melakukan verifikasi. Rosid harus meninggalkan pekerjaan sebagai ojek online demi kelangsungan pendidikan anaknya.

Rosid sudah menunggu lebih dari dua jam untuk mendapatkan pelayanan guna membantu verifikasi data. Rosid menduga terdapat permasalahan sistem penginputan sehingga data anaknya yang telah lengkap belum terverifikasi.
“Kayaknya gangguan sistem, data anak sudah lengkap, tapi verifikasi sekolah yang dituju ga bisa terakses, untuk itu saya ke sini,” ungkap Rosid.
Rosid meminta, Dinas Pendidikan Kota Depok untuk memperhatikan adanya kemungkinan kendala pada sistem online. Dinas Pendidikan Kota Depok untuk lebih meningkatkan pelayanan dan kecepatan akses data pada pendaftaran online.

“Kalau bisa dilakukan perbaikan dan banyaknya orang tua yang datang karena keluhan sistem online, dapat dijadikan evaluasi,” pinta Rosid.
Respons Disdik:
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono mengatakan, aplikasi SPMB mengalami gangguan atau error saat diakses pendaftar.
Menurut Wahid, kepadatan ini murni terjadi akibat lonjakan pendaftar yang luar biasa besar di hari pertama pembukaan jalur domisili untuk tingkat SMP.
Tingginya antusiasme masyarakat ini rupanya jauh melebihi prediksi Disdik. Mayoritas orang tua yang datang ke posko ternyata bertujuan untuk memperbaiki kesalahan input data pribadi.
Kesalahan yang paling sering ditemui adalah penentuan titik koordinat rumah yang meleset, serta kekeliruan dalam memasukkan nomor Kartu Keluarga (KK).

Di sisi lain, kebijakan pengalihan pendaftaran Rintisan Sekolah Swasta Gratis (RSSG) dari sistem offline ke online turut menyumbang kepanikan.
Banyak akun orang tua yang belum selesai diverifikasi sistem, sehingga memicu kekhawatiran dan membuat mereka berbondong-bondong datang langsung ke posko.
Sebagai informasi, tahun ini jumlah SMP yang melayani RSSG mengalami peningkatan, dari 47 menjadi 52 sekolah.
“Memang tidak semua sekolah itu kan ada di bawah Kemendikdasmen ya, ada juga yang di Kemenag,”katanya.
Untuk mengurai antrean yang tak kunjung surut, Disdik Depok telah mengambil beberapa langkah strategis di lapangan. Salah satunya dengan penambahan personel.
Jumlah petugas pelayanan ditambah secara bertahap, dari awalnya 6-7 orang menjadi 9 orang, hingga total kini mencapai 15 petugas.
Selain itu, orang tua yang hanya perlu memperbaiki nomor KK atau titik koordinat tidak perlu lagi ikut mengantre panjang. Mereka cukup mengisi formulir manual yang disediakan, lalu diperbolehkan pulang.
Wahid memastikan bahwa seluruh warga yang datang dan mengantre akan dilayani hingga tuntas, bahkan jika petugas harus lembur sampai malam hari.
“Pendaftaran jalur domisili dan RSSG dibuka pada hari Senin dan Rabu. Hari Selasa khusus digunakan untuk optimalisasi layanan perbaikan,” ujarnya. (**).













