JAKARTA|| Radarpost.id
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa pagi dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu dan termasuk kategori gempa bumi dangkal.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan gempa terjadi pada Selasa (16/6) pukul 10.27 WIB dengan kedalaman 16 kilometer. Episenter gempa berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah.
“Hasil analisis menunjukkan gempa ini merupakan gempa tektonik dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault,” kata Nelly dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
BMKG memastikan hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Daerah Palolo, Kabupaten Sigi, mengalami intensitas tertinggi mencapai VII MMI. Sementara wilayah Torue dan Parigi Selatan merasakan guncangan pada skala VI hingga VII MMI.
Selain itu, getaran juga dirasakan masyarakat di Kota Palu dan Sigi Biromaru dengan intensitas V hingga VI MMI. Adapun wilayah Poso, Donggala, dan Pasangkayu mencatat intensitas IV hingga V MMI.
BMKG menerima laporan adanya kerusakan bangunan dan infrastruktur di sejumlah daerah terdampak. Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling signifikan, disusul Kota Palu, Parigi Utara, dan Poso.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan hingga pukul 12.00 WIB tercatat sebanyak 20 kali gempa susulan atau aftershock, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,2.
Menurut dia, aktivitas gempa susulan masih terus dipantau untuk memastikan perkembangan kondisi kegempaan di wilayah tersebut.
“Harapannya frekuensi gempa susulan semakin berkurang dan kekuatannya terus melemah,” ujarnya.
BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah stasiun pasang surut di sekitar pusat gempa guna memastikan tidak ada ancaman tsunami. Hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut relatif normal.
Stasiun pemantau di Parigi dan Poso tidak mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan. Sementara sensor di Pelabuhan Pantoloan hanya mendeteksi fluktuasi setinggi 7,5 sentimeter yang dinilai tidak membahayakan masyarakat.
Sebagai langkah lanjutan, BMKG telah mengirim tim teknis ke lokasi terdampak untuk melakukan survei lapangan dan mengkaji dampak gempa terhadap bangunan maupun kondisi geologi setempat.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti perkembangan informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG.
Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan dalam beberapa waktu ke depan.













