Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login
Ekbis  

ALLPrint 2026 Dibuka, PPGI: Kolaborasi Jadi Kunci Perkuat Industri Percetakan

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; motionR: 0; delta:null; module: video;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (13, 0);aec_lux: 261.37723;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 39;

Jakarta || Radarpost.id

Di tengah derasnya perkembangan dunia digital, industri percetakan ternyata masih memiliki peran penting dalam menopang perekonomian dan sektor kreatif nasional. Hal itu terlihat dari gelaran ALLPrint Indonesia 2026 yang resmi dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (7/10/2026).

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Achmad Mughira Nurhani menilai, penyelenggaraan pameran tersebut menjadi cermin pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun sekaligus memperkuat industri percetakan di Indonesia.

ALLPrint Indonesia 2026 merupakan pameran internasional percetakan dan teknologi grafika yang telah memasuki penyelenggaraan ke-27. Ajang ini kembali menegaskan posisinya sebagai hub strategis yang mempertemukan pelaku industri, produsen, distributor, supplier, hingga penyedia teknologi dari berbagai negara.

Pameran yang berlangsung selama empat hari, 7–10 Oktober 2026, tersebut menghadirkan berbagai inovasi mutakhir. Mulai dari mesin percetakan modern, peralatan presisi, bahan baku berkualitas, hingga solusi digital terintegrasi yang dirancang untuk menjawab tantangan dan kebutuhan industri grafika saat ini.

Achmad mengatakan, industri percetakan tidak sekadar berkaitan dengan teknologi dan proses produksi. Lebih dari itu, industri grafika menjadi bagian penting dalam penguatan industri nasional sekaligus menjadi medium bagi sektor ekonomi kreatif untuk menciptakan nilai tambah.

“Industri ini juga menjadi medium bagi sektor ekonomi kreatif untuk menghasilkan nilai tambah melalui desain, percetakan, penerbitan, fotografi, kemasan, serta berbagai produk berbasis kekayaan intelektual lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan inovasi di bidang printing justru membuka peluang semakin luas bagi pelaku usaha, khususnya UMKM.

“Perkembangan teknologi dan inovasi di bidang printing membuka peluang yang semakin luas bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, kemasan, branding, dan daya saing mereka,” katanya.

Sementara itu, CEO Krista Exhibitions Daud Salim mengatakan, ALLPrint Indonesia 2026 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan pameran industri printing yang telah digelar di sejumlah kota sepanjang 2026.

“Berbagai teknologi yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari teknologi cetak offset, cetak digital, hingga berbagai solusi teknologi digital terbaru yang menggunakan beragam jenis media,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan perwakilan Deputi Bidang Kreativitas Media Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Cecep Sukendi. Ia mengapresiasi konsistensi Krista Exhibitions dalam menyelenggarakan ALLPrint Indonesia.

Menurut Cecep, pameran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor penerbitan, percetakan, fotografi, periklanan, dan desain.

“Kami berharap ALLPrint Indonesia tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang bertemunya teknologi, kreativitas, pelaku usaha, dan peluang kolaborasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan ekonomi kreatif perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, teknologi, serta pengembangan kekayaan intelektual.

Dengan mempertemukan teknologi, produsen, distributor, asosiasi, dan pengguna dalam satu ekosistem, ALLPrint Indonesia 2026 diharapkan menjadi ruang strategis bagi pelaku industri untuk mengikuti perkembangan teknologi, menemukan solusi produksi, sekaligus memperluas koneksi bisnis.

ALLPrint Indonesia 2026 diikuti sekitar 400 peserta pameran, termasuk 20 UMKM. Para peserta berasal dari lebih dari 10 negara, antara lain Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan.

Kehadiran peserta internasional tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar yang menarik bagi perkembangan industri percetakan dan teknologi grafika.

Penyelenggaraan ALLPrint Indonesia 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem industri percetakan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar.

Digitalisasi, personalisasi produk, tuntutan efisiensi, serta kebutuhan terhadap proses produksi yang semakin fleksibel mendorong pelaku industri untuk terus memperbarui teknologi dan meningkatkan kapasitas produksi.

Melalui kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi, produsen teknologi, pemerintah, dan sektor ekonomi kreatif, industri percetakan diharapkan tidak hanya mampu bertahan di tengah era digital, tetapi juga terus tumbuh dan menciptakan nilai ekonomi baru.